Monday, January 26, 2026

Book Review: Dear Broken Soul


Tajuk: Dear Broken Soul

Penulis:

1. Liyana Musfirah

2. Maimunah Mosli


Menariknya Naskah Ini:  

Ini buku ke-2 yang Patung Beruang selesai membaca pada tahun ini, Alhamdulillah..

Buku ini Patung Beruang selesai membaca pada hari Sabtu. Oleh kerana weekend baru ini Patung Beruang tidak kemana-mana, makanya, Patung Beruang habiskan masa dengan: 

  • Spring cleaning rumah;
  • Mengemas wardrobe, asingkan semua pakaian dan tudung yang mahu dihantar ke refuse room; 
  • Mengemas fridge; 
  • Pilih buku-buku untuk dihantar ke charity bodies;
  • Duduk membaca buku;
  • Menjahit kaki dan mulut Dak Yot yang terkoyak (haish...pelik sungguh, apalah Dak Yot ini buat sampai ada part dia yang terkoyak dan kekabu pun dah terkeluar sedikit); dan
  • Memasak (walaupun yang nak makan cuma Patung Beruang seorang saja sebab Imran pulang ke Melaka). 


Blurb:

"Life is a place for us to be tested - this is something we know but going through a painful and heartbreaking experience can leave the heart feeling like it's shattered into pieces. 

We succumb to the pain, drown ourselves in the whirlwind of emotions, and we end up becoming a person we no longer recognise because of our "brokenness". But love and pain are emotions from God. So why does one bring us joy and the other makes us feel like we're trapped in a dark hole?" 


Dear Broken Soul ini adalah sebuah naskah reflektif dan spiritual yang ditujukan kepada jiwa-jiwa yang sedang terluka, letih, dan hampir berputus asa. Buku ini hadir bukan sebagai ceramah atau penghakiman, tetapi sebagai warkah - mengingatkan pembaca bahawa dalam detik paling gelap, paling rendah, Allah tidak pernah pergi. 

Melalui tulisan yang ringkas, tenang dan penuh empati, kedua-dua penulis mengajak pembaca untuk kembali kepada Tuhan bukan dengan paksaan, tetapi dengan kefahaman bahawa Allah menerima kita walaupun kita dalam keadaan paling hancur sekalipun. Luka, kegagalan, kesedihan dan rasa tidak cukup baik semuanya diraikan sebagai sebahagian daripada perjalanan kembali kepada-Nya. 


Bagi Patung Beruang, naskah Dear Broken Soul ini bukanlah buku yang patut dibaca laju. Ia adalah buku yang dipeluk perlahan-lahan. Setiap halaman terasa seperti bisikan lembut kepada jiwa yang penat - tidak memaksa untuk segera kuat, tetapi memberi izin untuk menangis, berhenti seketika, dan bernafas. 

Kekuatan utama naskah ini terletak pada nada penulisannya. Ia tidak menghukum, tidak berprasangka, dan tidak membandingkan tahap iman pembaca. Sebaliknya, ia berdiri di sisi pembaca sebagai sahabat yang berkata: 

"Aku faham. Kau penat. Dan itu tidak menjadikan kau jauh daripada Allah." 


Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah difahami, namun sarat dengan makna. Ia sesuai untuk pembaca yang mungkin sudah lama menjauh, atau yang masih beriman tetapi keletihan untuk terus bertahan. Buku ini mengingatkan kita  bahawa penyembuhan jiwa bukan tentang menjadi kuat dengan segera, tetapi tentang kembali kepada Tuhan, berkali-kali, walaupun dengan hati yang retak. 

Satu aspek yang Patung Beruang suka adalah bagaimana buku ini menormalisasikan kesakitan emosi dalam kerangka iman. Kesedihan tidak digambarkan sebagai tanda iman lemah, sebaliknya sebagai ruang dimana rahmat Allah paling dekat. 

"Ketika kita berada di titik paling rendah, Allah bersedia memeluk kita dengan penyembuhan-Nya."


Ada beberapa petikan yang Patung Beruang suka seperti: 

  • Sabr does not mean you fall into a victim mentality where all things will fail and all hopes will be lost. Sabr also is not pretending that things are well and all is fine. It does not mean that you are able to put up a fake smile and laughter when others ask: "How are you?". That is lying. That is pretending.
  • If there is one blessing in life you should be thankful for, it would have to be your past experiences. Without them, you are merely a blank canvas, but they have shaped and coloured this version of you into a masterpiece that is unique and special. 
  • Pain and struggle gives you the pause your body needs. You walk too fast, you work too hard, you give too much, you are always moving and functioning like a robot. You forgot that the main purpose of life and living is to seek the pleasure of God. 
  • So when you are always moving, emergency pauses need to happen for you to slow down. Sometimes, these emergency pauses do not come in pretty little packages. They come in the worst of forms such as sickness that requires you to rest; separation or betrayal that pushes you to be brave on your own; failure, disappointment, or rejection that forces you to stop and reflect. 
  • Tests and hardships bring you the best gift of realisation. Realisation that we need God's help. Realisation that we cannot do it on our own. We think we are strong, and that we have the right circle, the right skills and talents to get through anything and everything. But we are wrong to think that we are superheroes in this life. Because even superheroes are given superpowers by God. Struggles give us the realisation that ultimately, we still need Him. We need His care, His embrace, His love, His mercy and His guidance. 


Kesimpulannya, buku ini nampak ringkas tetapi ia perlu dibaca dan dihadam perlahan-lahan seperti sedang duduk berbual dengan rakan baik. Kupas satu-persatu persoalan, emosi, pergelutan, kesedihan dan kelukaan yang ada dalamnya. Patung Beruang ambil masa seminggu lebih juga untuk habiskan naskah ini. Tetapi, setelah tamat membaca, rasa puas sangat... 


Oklah.. sudah lewat malam ini. Mata Patung Beruang pun sudah mengantuk sangat. Ada lagi beberapa buah buku yang Patung Beruang sudah letakkan atas meja tulis ini, untuk update book review. Malangnya, mata ini tak nak bekerjasama pula. Kita sambung lagi kemudian ya..


Semoga malam ini memelukmu dengan tenang, dan segala yang berat dihatimu dilembutkan sedikit demi sedikit.
Jika hari ini melelahkan, biarlah tidur menjadi tempat kamu berehat. 
Selama malam.. semoga esok datang dengan lebih damai....

No comments:

Post a Comment

About Me

My photo
A simple girl who love books and teddy bears namely Bibi, Bunny and Dak Yot...