Saturday, February 21, 2026

Ramadhan 2026 dan Hari ke-309

Selesai sudah hari ke-3 Ramadhan, Alhamdulillah..

Untuk berbuka puasa hari ini, Patung Beruang masak bihun goreng saja.  Hiaslah dengan scramble egg, cili hijau potong dan bawang goreng. Simple. Nasib baiklah bihun ini, garam dan pedasnya just nice, Alhamdulillah.

Memasak ketika berpuasa ini biasanya Patung Beruang main agak-agak saja. Itu sebabnya sebelum makan, Patung Beruang akan cakap siap-siap -

"Kalau tertawar, termasin, terpedas, maafkan saya ye." 


Skrip ini sama saja setiap kali Patung Beruang masak. 

Kudap-kudapan pula ada anggur, salad dan samosa kentang. Cukuplah untuk Patung Beruang, Ibu dan Imran.


Rasanya seperti baru semalam Patung Beruang mengucapkan selamat tinggal pada Ramadhan di tahun 2025. Kini sudah bersua kembali. Ramadhan tahun lepas benar-benar memberi kesan pada Patung Beruang, susulan dari Ayah disahkan mengidap Kanser Hati di minggu pertama Ramadhan, dan seterusnya meninggalkan kami di pertengahan Syawal.

Sejak penghujung 2025, Patung Beruang mula rasa takut untuk menghadapi Ramadhan 2026 ini. Takut jika tahun ini Patung Beruang akan diuji lagi dengan kehilangan insan yang tersayang. 


Hari ini genap hari ke-309 Ayah pergi... Ramadhan pertama tanpa Ayah...

For me, loss of Ayah, the pain is indescribable. It starts with the sharp ache in my chest, like my heart has been torn apart. Days blur into nights, and the world around me moves on while I'm stand still, paralyzed by a grief that I cannot escape. 

I replay the moments over and over in my mind - what Ayah said, what I didn't say, what I could have done differently, along with all the other "what ifs". And honestly, with every thought, the weight grows heavier. 

I often feel alone, even in a room full of people, in a house full of family members. The silence becomes deafening, and the loneliness wraps itself around me like a heavy winter coat.  Family and friends tried to comfort me, but their words often feel hollow. 

"Be strong, Ilyana"

"It's time to move on, Ily"

"Kakak, you shouldn't grieve so long. He is in a better place now." 


Ya, they said so much comfort words. But, how do I move on when my heart refuses to let go? 

How do I find strength again when I feel like a shell of the person I once were? 


Strangely, I feel ashamed that I'm still hurting. Embarrassed that I can't seem to "get over it". I wonder if there's something wrong with me. Ibu and my siblings  seem to cope so well while I'm still drowning in the sea of sadness. 

But, the world expects me to bounce back, to be productive, to wear a brave face. So?

I end up burying my feelings, suppressing the tears, and pretending I'm okay. But, deep inside, the emptiness grows. I keep on telling myself to "just keep going", hoping that time will heal the wounds. 

But Ilyana, here's the truth: 

Time doesn't heal my wounds. Healing isn't automatic, it requires attention, reflection, and faith. 


I have a deep, unspoken pain that I didn't know how to process. When Nenek passed away in 2017, I've cried. I missed her so much. But, after a few days or weeks, I moved on. Same goes to when Atuk passed away in 2022. I was not hurt so much.


There were sleepless nights, the endless overthinking, the quiet moments when I felt like giving up. I carried heavy burden, a burden that I didn't know how to lay down to rest. 

Nak tahu tak apa yang paling penat?

Memakai topeng setiap hari tatkala keluar rumah. Penat. Sangat penat. Kerana perlu berpura-pura kuat, seolah tiada apa, seolah semuanya baik-baik saja. 

Since the world expects me to be productive - Yes, I comply. I am the same Ilyana that always high functioning, no matter what. Always composed. 

Tapi, bila masuk saja dalam kereta, or masuk saja dalam rumah, semua topeng itu akan terbuka sendiri. And there goes.. The real Ilyana. I will cry, cry and cry.. Or just merenung kosong, tembus ke dinding di condo sebelah. 

Solat? Baca Al-Quran? Tahajud di sepertiga malam? Yes.. I've done it.. sambil menangis teresak-esak. 

Sakitnya, Allah saja yang tahu. Indescribable pain. Tak tahu nak cerita macam mana.


Sampai bila nak macam ini? Soalan yang sering ditanya pada diri sendiri. 

Berbulan-bulan. Inilah keadaannya.


Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sedikit demi sedikit, Allah hadirkan bantuan. Allah kuatkan jiwa. Allah sembuhkan rasa sakit itu. Perlahan-lahan tapi berkesan.  

Pain is not a punishment. It is not a sign that Allah has abandoned me. Instead, pain is a test, a means of drawing closer to Allah and strengthening my faith. It may seem counterintuitive, but pain can also a sign of Allah's love.

Ada hadis Rasulullah SAW berbunyi: 

"Indeed, the magnitude of the reward is proportionate to the magnitude of the trial. And Allah loves a people, tests them. So whoever is content, for him is contentment (from Allah), and whoever is displeased, for him is displeasure." (Tirmizi) 


Why would Allah test those He loves? 

Because He knows that through these tests, we grow. Our hearts become softer, our reliance on Him becomes stronger, our faith get deeper. Pain has a way of defining the soul, much like fire purifies gold. 


How could we appreciate love if we never felt loneliness? 

Pain and pleasure, loss and gain, hardship and ease - all are part of the human experience, designed to teach us gratitude and perspective. 

Surah Al-Insyiraah, ayat 5 dan 6: 

"Indeed, with hardship comes ease. Indeed, with hardship comes ease." / Bahawa sesungguhnya, tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan. Bahawa sesungguhnya, tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan." 

See, the verse repeats itself. As though Allah is reassuring us, over and over, that pain is not permanent. Within every trial, there is a blessing. With every loss, there is an opportunity for gain. 



Untuk Ramadhan 2026, Patung Beruang cuma berazam untuk buat sehabis baik dan cuba istiqamah walaupun selepas berakhirnya Ramadhan tahun ini. Entah ada rezeki atau tidak untuk berjumpa lagi. In fact, kita pun tak tahu adakah kita sempat untuk jumpa ke penghujung Ramadhan kali ini. 


Dalam masa setahun, banyak yang Patung beruang belajar:

1st: Be it Ayah disahkan sakit. Ayah pergi. Is all painful moments. But, at the end I realize that pain is not my enemy. It is a teacher, a purifier, and, ultimately, a reminder of Allah's mercy. 


2nd: Don't ever leave the Quran. The Quran is our companion. The Quran acknowledges the human experience of despair but gently reminds us to hold on to hope: 

Surah Al-Hijr, ayat 56: 

"And who despairs of the mercy of his Lord except for those astray."  / "Dan tiadalah sesiapa yang berputus asa dari rahmat Tuhannya melainkan orang-orang yang sesat" 

We are not alone in feeling this way. Even Rasulullah SAW faced moments of despair. But, what we should do? Turn to Allah with our despair. Speak to Him in our prayers, share our fears, and seek His comfort. And reciting Quran can provide solace and remind us of Allah's presence.  

Jangan baca Quran cepat sangat. 

Baca dengan tertib, ulang berkali-kali,  fahamkan satu-persatu ayat yang ada. Cari buku-buku atau kelas-kelas yang dapat membantu Patung Beruang untuk tadabbur Quran. 

Perasaannya lain bila kita faham apa sebenarnya intipati ayat-ayat tersebut. Mendapat ilmu baru,  memberi pemahaman baru, membuka perspective baru. 


3rd: Always grateful and say "Alhamdulillah". For everything He gave to us, be it good or bad. Be it pleasure or pain. Everything. Even in the sorrows and sadness of grief, gratitude allows me to see the beauty of what once was. It shifts my focus from what I've lost to what I were blessed to have had. 

"Thank you Allah, for the wisdom that Ayah shared with me." 

"Thank you Allah, for my families' and friends' unwavering support when I needed it most." 

"Thank you Allah, for letting me experience this painful and sorrows moments, so I can be a better version of myself." 


4th: Sabar. Yes, sabar. Sabar (patience) is not about suppressing our emotions or pretending that everything is fine. Nope, is not.. 

Sabar is about finding the balance between acknowledging our pain and trusting in Allah's wisdom. Through sabar, I find the strength to endure, the clarity to seek healing, and the faith to trust that Allah's plan is always for my ultimate good. 


5th: Doa. Doa is not just a ritual. It is the heart's lifeline to Allah. It is an act of surrender, of trust, and of hope. It is the bridge between my pain and His mercy. When I feel helpless, paralyzed by sorrow, doa become a way to take action - both practical and spiritual. 

Sekecil-kecil benda pun Patung Beruang akan berdoa. Hatta, setiap kali drive pulang ke rumah Ayah di Melaka, Patung Beruang akan doa mohon Allah permudahkan perjalanan Patung Beruang, dilindungi dari kelewatan, kecelakaan, kemalangan, dan selamat sampai dalam waktu yang sepatutnya ke rumah Ayah. 

Sama juga bila Ibu minta Patung Beruang untuk keluar rumah belikan barang ketika Ibu dalam Iddah. Dalam perjalanan, Patung Beruang akan berdoa mohon Allah permudahkan semua urusan untuk beli barang-barang yang diminta dan pulang dengan hasil yang menggembirakannya. 

The truth is Patung Beruang tidak hafal banyak doa dalam bahasa Arab. Disebabkan itu, Patung Beruang lebih selesa untuk doa dalam Bahasa Melayu atau English kerana apa pun bahasa yang kita guna, Allah tahu. 

Kesimpulannya, doa saja. Walaupun kita rasa permintaan kita itu remeh, teruskan berdoa sebab tiada yang remeh pun disisi Allah.


6th: Find a way to immerse myself fully in the life that I've been given. To stop running from whatever I'm trying to escape, and instead, to stop and turn, and face whatever it is.

Yes, pemergian Ayah is a reality. Itu hakikat yang Patung Beruang kena terima. Menangis air mata darah sekalipun, Ayah tak akan hidup semula. Patung Beruang tiada pilihan kecuali terima kenyataan tersebut dan berdamai dengan takdir.

Hari berganti hari dan hidup perlu diteruskan. 

So, I have to walk toward it. In this way, the world has reveal itself to me as something magical and awe-inspiring that does not require escape. Instead, the world may becomes something worth paying attention too.  

Patung Beruang mula kembali kepada aktiviti yang Patung Beruang suka dan minat. Membaca, menulis, menikmati alam semulajadi, mencipta pengalaman baru, pergi ke tempat baru, berjumpa dan kenal orang baru. 

Percayalah, setiap pengalaman baru yang ditempuh, atau setiap kenalan baru, memberi 1001 cerita yang ada kalanya, tidak terfikir dek akal kita. 

Ibarat kita minum kopi. Setiap bean ada keunikkan rasanya. Dan setiap barista juga ada bancuhan signature nya. Hidangan kopi dari bean yang sama tapi barista yang berbeza, pasti menghasilkan rasa yang berbeza. 

Tugas kita sebagai peminum kopi - minum dengan perlahan-lahan, biarkan kopi itu melalui deria rasa di lidah, dan menikmati setiap kepahitan yang tercipta. Pahitnya kopi itu adalah satu kenikmatan untuk kami, yang hanya difahami oleh peminum kopi saja... 


Adakah Patung Beruang sudah kembali kuat? 

Well... Soalan itu tiada jawapan sebab diri ini tidak tahu dimana limitnya. Keadaan Patung Beruang pada hari ini di tahun 2026, jauh berbeza dengan tahun lepas. Alhamdulillah...


Yang pasti, 

bila setiap hari Patung Beruang bersemangat untuk bangun dari tidur walaupun ketika jam 4 atau 4.30 pagi, 

bersemangat untuk memulakan hari baru,  

bersemangat untuk pergi ke pejabat, 

bersemangat untuk bekerja, 

bersemangat untuk bertemu sesiapa saja yang Allah takdirkan pada hari itu,

bersemangat untuk bantu orang,

bersemangat untuk lakukan yang terbaik sebagai seorang hamba Allah,

bersemangat untuk melakukan sebanyak mungkin kebaikan dan saham akhirat, 

bersemangat untuk menjalani kehidupan sehabis baik, 

Patung Beruang rasa bersyukur sangat... 

Sebab Patung Beruang sudah rasa bagaimana menjadi manusia yang rasa kosong dan patah seribu. Bagaimana kena berpura-pura senyum dihadapan orang. 

Patung Beruang percaya, rasa semangat itu adalah rezeki dari Allah. Allah yang letakkan perasaan itu dalam hati ini. Jadi, hargailah nikmat tersebut...  



Itu antara pengajaran besar yang Patung Beruang perolehi selama setahun ini. 

Mengapa Patung Beruang kongsikan disini?

Kerana ada yang bertanya bagaimana Patung Beruang hadapi masa-masa sukar selepas Ayah pergi. Ada antara mereka yang turut diuji dengan kehilangan. Hilang orang tersayang, hilang harta benda, hilang hala tuju kehidupan dan sebagainya.

Makanya, Patung Beruang berkongsi disini dan semoga perkongsian yang tidak seberapa ini membantu mereka menghadapi hari-hari mendatang, Insya-Allah... 

Setiap orang ujiannya berbeza. Dan setiap orang juga ada garis masa sendiri. Tak ada satu manual yang sesuai untuk dipakai oleh semua orang dalam menghadapi ujian kehidupan. Cuma, apa pun keadaan kita, bagaimana teruk sekali kita jatuh, bagaimana jauh sekali kita tersasar, jangan sekali-kali lupakan Allah..That's it...

About Me

My photo
A simple girl who love books and teddy bears namely Bibi, Bunny and Dak Yot...