Showing posts with label Mizi Wahid. Show all posts
Showing posts with label Mizi Wahid. Show all posts

Wednesday, April 29, 2026

Book Review: Grieving With God


Tajuk: Grieving With God 

Penulis: Mizi Wahid 

Cerita Patung Beruang: 

Ini adalah naskah ke-7 yang berjaya Patung Beruang selesaikan pembacaan untuk tahun ini, Alhamdulillah. 

Mizi Wahid is one of my favourite authors. Kebiasannya beli saja buku beliau, Patung Beruang akan terus baca. Bermakna, karya-karya beliau ada keistimewaan untuk skip my to-do-read list, hehehe.. 

Anehnya, ia tidak berlaku untuk naskah ini. 

Naskah ini Patung Beruang beli di Kinokuniya Pavilion Damansara, penghujung tahun lepas. Selepas beli, naskah ini elok saja terletak di atas meja kerja didalam bilik tidur. Entah mengapa, Patung Beruang tidak rasa untuk membacanya walaupun Patung Beruang sedar topik yang ditulis untuk naskah ini sangat dekat dengan hati ini. 

Sehinggalah ketika Syawal baru-baru ini, Patung Beruang dikejutkan dengan kehilangan ahli keluarga terdekat. Berhari-hari Patung Beruang rasa sesak sangat dada ini. Sehingga di minggu ke-3 Syawal, Patung Beruang ternampak naskah ini di atas meja dan tergerak hati untuk mula membacanya. 

Dan seperti dijangka, tulisan Mizi Wahid ada soothing effect. Seperti seorang ayah yang sedang memberi nasihat pada anak yang sedang rapuh. Tutur kata yang lembut, intonasi yang mendamaikan dan cukup untuk memujuk hati yang sedang rawan. 


Menariknya Naskah Ini: 

Naskah Grieving With God dimulakan dengan detik-detik wafatnya Rasulullah SAW di Madinah. Bagaimana reaksi dan penerimaan Abu Bakar dan Umar, 2 orang sahabat baik Nabi Muhammad SAW ketika situasi tersebut. Kedua-dua mereka sangat mencintai Nabi terakhir ini, dan kedua-duanya bersedih dengan cara yang berbeza. 

"Umar - the embodiment of strength and justice, initially could not accept the grief. His heart refused to believe that the Prophet (SAW) could leave them. His sorrow erupted as denial, anger, and defiance. It was raw, uncontrolled grief. 

Abu Bakar, on the other hand - always composed, always steady, grieved with silent tears, deep kisses, and words of unwavering faith. His sorrow was wrapped in acceptance and submission to Allah's perfect decree."


Kesedihan kedua-dua sahabat Rasulullah SAW ini mengajar kita tentang walau betapa jatuhnya kita ketika itu, jangan sekali-kali ia menggoyahkan pergantungan kita kepada Allah SWT. Kerana pada akhirnya, hanya Allah SWT adalah sebaik-baik Perancang, ilmu dan kekuasaan-Nya tidak terbatas. 

Loss (Kehilangan) bukan semata-mata kerana kematian insan yang tersayang. Episod kehilangan itu sendiri besar maknanya. Perhaps we've experienced the heartbreak of a failed relationship, the anguish of losing job that defined us, or the emptiness that follows the collapse of a dream. Each loss carries its own weight, its own storm. 


Bab 2, penulis berkongsi tentang understanding grief. Grief is a universal experience, yet it manifests differently for each person. It is the emotional, physical, and spiritual reaction to loss - a complex process that impacts the very core of who we are. 

As per my experience, grief is not simply an emotion. It is a journey where we can feel disorienting, exhausting, and, at time, overwhelming. 

There are 5 stages of grief that illustrated as Elisabeth Kubler-Ross model which are: 

  • Denial - the mind's way of protecting itself from the full weight of the loss. It's the initial reaction of disbelief, where we might find ourselves thinking, "This isn't real. This can't be happening."
  • Anger - As the reality of the loss sets in, anger often follows. It can be directed at others, at oneself, or even at Allah. We keep on asking, "Why me? Why now? Why did Allah allow this to happen?" 
  • Bargaining - In the bargaining stage, we often find ourselves clinging to "what ifs" and "if only". It's an attempt to regain control in a situation where we feel utterly powerless. Bargaining is also the stage where many turn to Allah with desperate prayers. 
  • Depression - This is often the heaviest stage, where the weight of the loss feels unbearable. A sense of emptiness, hopelessness, and isolation takes over. 
  • Acceptance - Acceptance is not about forgetting the loss or pretending it doesn't hurt. It's about coming to terms with the reality of what has happened and finding a way to move forward with faith and purpose. It's recognizing that while life may never be the same, it can still hold meaning and joy. 


One of the most insightful concepts that Patung Beruang encountered in this book is the 5 phases of healing, explored through the lens of Islamic teachings and values as follows: 
  • Phase 1: Initial Reaction (Shock) - The immediate emotional response to loss is often one of shock. The suddenness of death or separation can leave a person feeling numb, disoriented, or overwhelmed. 
  • Phase 2: Spiritual Response (Patience / Sabar) - Once the initial waves of grief subside, Islam calls the believer towards patience. Patience is an active, hopeful, and trusting state upon Allah The Most Wise. To bear grief without complain, while allowing oneself to feel and eventually heal. 
  • Phase 3: Emotional Response (Sorrow and Crying) - Islam validates sorrow. Feeling sadness is not a sign of weak faith, but rather a reflection of the heart's tenderness and depth. Sadness, when channeled with sincerity, can become a bridge that brings the heart nearer to Allah, transforming pain into devotion. 
  • Phase 4: Spiritual Acceptance (Acceptance of Takdir) - Understanding that everything occurs by Allah's will and wisdom. 
  • Phase 5: Transformation (Turning Grief into Power and Purpose) - The final and most empowering stage is when grief becomes a force for greater faith, courage, and contribution. True healing comes not just from remembrance, but from channeling the pain of loss into strength and service. 


Bab 5: Faith in the Face of Despair. 
Seperti yang Patung Beruang sebut diatas tadi, grief is a journey. One that ebbs and flows, sometimes catching us off guard when we least expect it. 

First, we have to validate our pain. It is ok to feel despair. It is ok to feel lost, to cry, to question, and to struggle. These emotions are sign of our humanity, not a sign of weakness. 

When despair feels overwhelming, take small, deliberate steps to reconnect with life such as: 
  • Seek Support - Talk to someone we trust. Sharing our pain lighten the burden. 
  • Rebuild Routines - Grief disrupts life, but slowly re-establishing daily habits can help create a sense of stability. 
  • Engage in Worship - Solat, zikir, and reciting Quran can provide solace and remind us of Allah's presence. 
  • Find a Purposeful Outlet - Volunteer, start a project, or dedicate time to something our loved one cared about. Turning our grief into action can be healing. 
  • Take It One Day at a Time - We don't have it all figured out. Focus on today, and let tomorrow come in its own time. 


Karya Mizi Wahid jarang mengecewakan. Dan naskah ini juga tidak terkecuali. Kini Patung Beruang faham mengapa Allah gerakkan hati ini untuk membelinya tahun lepas tapi tidak terus membaca. Rupanya, Allah nak beri masa yang paling tepat untuk Patung Beruang teliti satu-persatu initipati dari naskah ini, Alhamdulillah. Benarlah, perancangan Allah itu sentiasa yang terbaik. 

Patung Beruang baca naskah ini perlahan-lahan. Baca sedikit demi sedikit ketika lunch hour ataupun sebelum tidur. Ada banyak kupasan dalam naskah ini yang Patung Beruang berhenti seketika untuk refleks apa yang diri alami selama ini, dan bagaimana untuk memperbaikinya, supaya grieving itu tidak berlarutan. Ini antara buku yang banyak Patung Beruang tulis notes, gariskan point-point penting dan juga letak sticker, supaya mudah untuk diri ini rujuk semula di kemudian hari.

Generally, we don't have to go through this grieving alone. It's ok to feel broken, to ask questions, and to heal slowly.  Naskah ini penuh dengan tips dan panduan for the grieving soul. Ultimately, this book helps us to make sense of the pain, find hope in the silence, and remember that God never leaves a grieving heart unanswered. 

Our grief is a reflection of our love. And that love is something that no one can ever take away from us.
But, remember this.. 
Allah is with us. He sees our tears, hears our prayers, and knows the ache in our heart. And He is closer to us than our jugular vein. 
So, take our time to grieve. No rush, no deadline. 
But.. 
Don't let our grief define us. Because we are so much more than our pain. We are a person with a purpose, a heart capable of so much more, and a soul destined for eternal peace....  

Sunday, April 3, 2022

Book Review: You Are Loved


Tajuk: You Are Loved 

Penulis: Mizi Wahid

Menariknya Naskah Ini: 

Ini adalah naskah ketiga dari Mizi Wahid yang ada dalam koleksi Patung Beruang. Alhamdulillah.. 


Naskah You Are Loved membawa pembaca tentang betapa pentingnya untuk kita sayang diri kita sendiri, terima segala kelebihan dan kekurangan tanpa perlu membandingkan diri kita dengan orang lain diluar sana. Rawat dulu hati kita sebelum kita merawat insan lain. Bantu diri sendiri agar menjadi hamba Allah yang baik. 

Sedar bahawa kewujudan setiap diri kita ini memberi impak antara satu sama lain. Jadi penting untuk kita rasa prihatin dan empati terhadap insan lain. Rezeki dan ujian masing-masing tidak sama. Percayalah yang Allah tidak akan menciptakan sesuatu makhluk atau manusia itu sia-sia sahaja. 


Pada masa ini, ramai dari kita rasa kekosongan. Kosong jiwa. Kosong hatinya. Kekosongan itu mendatangkan satu beban emosi yang berat. Kita rasa terbeban sehingga seakan tidak mampu untuk menghadapi hari-hari yang mendatang. Ada antaranya mula merasakan kekosongan itu setelah kehilangan seseorang atau sesuatu dari kehidupannya. Mungkin kehilangan pasangan, ahli keluarga, kehilangan haiwan kesayangan, atau juga perubahan corak kehidupan seperti dari berkerjaya kepada tidak bekerja atau dari bekerja sendiri kepada makan gaji atau juga diuji dengan masalah kesihatan atau kewangan. 

Perlukah dilawan perasan kosong itu?

Ye, perlu. 

Ingat, Allah tidak akan mencipta makhluknya hanya dengan alasan kosong semata-mata.

Setiap dari kita ada tugas dan tanggungjawab tersendiri. Paling utama, tanggungjawab kita sebagai makhluk Allah. 

Boleh bersedih tetapi jangan berlama-lama. 

Suata hari nanti, kita tetap perlu bangkit dan buka lembaran baru. Selagi masih bernafas, perjuangan menjadi hamba Allah yang baik masih perlu diteruskan. 

Buka mata dan pandang disekililing. Ramai yang memerlukan kita. Mungkin dari segi tenaga, wang ringgit, buah fikiran, ilmu pengetahuan atau mungkin juga perhatian. Banyak yang boleh dibantu untuk kebaikan....


Perasaan yang lebih menyakitkan daripada rasa tidak disayangi adalah, kita merasakan yang kita disayangi pada awalnya, namun pada suatu hari kita menyedari yang kasih sayang itu sebenarnya sudah hilang. Ia sangat menyakitkan. Rasa dikhianati. Rasa ditikam bertubi-tubi. 

Kita mula bertanya, apa salah kita? Apa dosa kita? Apa yang telah kita lakukan sehingga Tuhan memberi beban emosi sebegini berat? 

Beratnya bebanan jiwa itu sehingga kita rasa sesak, rasa sukar untuk bernafas. Zahirnya normal seperti tiada apa. Kita menjalani kehidupan seperti orang lain. Bangun pagi, melangkah keluar rumah mencari rezeki. Pulang ke rumah setelah senja. Tidur dimalam hari. Dan esok, aktiviti yang sama berulang kembali. Namun, tiada siapa sedar yang dalam hati kita ini sedang penuh dengan hujan dan taufan. Bibir tersenyum diluar dan hati menangis didalam. Kita pendam segalanya kerana tiada kata yang mampu diluahkan untuk memberi kefahaman kepada manusia. Walaupun pada insan yang paling rapat. 

Ingatlah sahabat, hati kita ini milik Allah. Allah yang berkuasa untuk meletakkan apa jua perasaan didalam hati kita. Dan Allah juga lah yang berkuasa untuk menarik kembali perasaan itu. 

Ketika tiada kata yang terluah dibibir, Allah cukup mengerti apa yang ada di dalam hati ini. Allah tahu jiwa kita sedang menangis dan merintih. Allah tahu kita rasa penat. Allah juga tahu betapa beratnya beban jiwa yang kita tanggung.

Tetapi Allah tidak pernah zalim pada kita. Allah uji kita dititik kelemahan kita. Kenapa? 

Kerana Allah nak kita kuat. 

Sebab itu kita akan diuji berkali-kali di titik kelemahan yang sama. 

Sehingga kita cukup kuat untuk menghadapinya dan ia bukan lagi menjadi kelemahan kita. 



Seperti biasa, tulisan Mizi Wahid ada soothing effect pada Patung Beruang. Terasa seperti patah perkataan yang ditulis itu memujuk hati ini, agar kembali kepada Sang Pencipta. 

Apa pun situasi kita, kembali semula kepada Allah. Kerana Dia lebih mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Disaat kita rasa kita tiada tempat mengadu, ingatlah bahawa Dia sentiasa ada. 

Tidak semua perkara kita mampu bercerita atau berkongsi dengan manusia. Salah-salah cerita, boleh terbuka aib sendiri. Salah-salah cerita, boleh dijadikan umpan fitnah and umpatan. Namun, kita boleh berkongsi apa saja dengan Allah. Lintasan hati kita juga Dia tahu. 

Kehidupan ini terlalu singkat untuk disia-siakan demi memenuhi expectation manusia lain. Kehidupan ini juga terlalu singkat untuk dijadikan medan perlumbaan dengan manusia lain. Kehidupan ini sepatutnya menjadi medan persediaan kita untuk tinggal di alam yang kekal.... 

Saturday, May 16, 2020

Book Review : Call Upon Him

Tajuk : Call Upon Him

Penulis : Mizi Wahid

Menariknya Naskah Ini : 

Naskah kedua karya Mizi Wahid ini Patung Beruang selesai membaca beberapa hari lepas. Bermula dari The Art of Letting God, Patung Beruang mula selesa dengan tulisan Mizi Wahid. Gaya penyampaian yang simple tetapi masuk terus ke dalam hati. 

Call Upon Him ini menyenaraikan 21 cara yang boleh kita aplikasikan untuk lebih dekat dengan Allah terutama dalam soal meletakkan sepenuhnya kebergantungan kita kepada-Nya. 

Antara point-point penting yang boleh kita dapat dari naskah ini adalah:
  • Solat adalah sebaik-baik cara yang boleh kita gunakan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Solat adalah tiang agama. Ramai yang menyedarinya tetapi berapa ramai yang benar-benar memahaminya. Ramai orang bersolat kerana merasakan itu lah tanggungjawab mereka sebagai seorang Muslim. Benar, mengerjakan solat kerana tanggungjawab. Namun, adakah solat itu hanya sebagai medium penyembahan semata-mata atau kita berusaha memberi lebih makna dan tambah nilai kepada aktiviti solat kita itu?  
  • Solat sepatutnya menjadi satu proses komunikasi yang istimewa dan bermakna antara kita dengan Allah SWT. Kita menikmati setiap detik ritual tersebut baik dari segi fizikal dan mental, dari segi jasad dan rohani, dari segi luaran dan dalaman. 
  • Kita sering bertanya, "Mengapa Allah SWT tidak menjawab doa kita? Mengapa Allah SWT tidak memakbulkan permintaan kita?"  Tetapi... pernah tak kita bertanya kepada diri sendiri, "Bagaimana hubungan kita dengan Allah SWT? Adakah kita berusaha sehabis baik untuk lebih dekat dengan Allah SWT?"    
  • Letakkan Allah SWT sebagai main priority kita. Bila kita datang dan meminta kepada Allah sedari awal lagi, kita akan sedar bahawa Allah adalah tempat utama dan paling pertama untuk kita menggantungkan harapan, bukannya sebagai our last resort. 
  • Jangan sekali-kali limitkan permintaan kita pada Allah. Kerana jika begitu, ia bermakna kita limitkan kemampuan Dia, Yang Agung. 
  • Tiada yang mustahil dengan Allah SWT. Apabila memohon sesuatu dari-Nya, sedarlah yang kita sedang memohon dari unlimited source of abundance and mercy, not a source of scarcity and limitation. 
  • Allah SWT telah berjanji yang Dia akan memberi selagi mana kita memohon dari-Nya. Allah sentiasa menunggu hamba-Nya yang sanggup bangun di tengah malam demi mencari-Nya, mencari keredhaan-Nya. Jadi, apa lagi?  Ayuhlah bertahajud demi merebut tempat yang istimewa di sisi-Nya. 
  • Kadang kala sifat was-was atau keraguan kita tidak terlihat dari kata-kata yang diucapkan dalam doa. Tetapi, ia wujud dari uncertainty that we feel in our heart.  Jika meminta dari-Nya, tetapkan hati kita. Mengapa mesti ada keraguan sedangkan kita sedang meminta dari Dia, Yang Maha Berkuasa?
  • Jalan paling cepat untuk doa kita dijawab adalah apabila kita berdoa untuk orang lain seperti yang tercatat dalam hadis Rasulullah SAW, "Apabila kita mendoakan orang lain, Malaikat akan mengaminkan doa tersebut dan juga berdoa agar kita juga dikurniakan perkara yang sama." 
  • Apabila kita mendoakan orang lain, it is a sign of selflessness and care. It displays love for others beyond our own personal needs and wants. Jadi, jangan kedekut untuk mendoakan orang lain. 


Seperti biasa, tulisan Mizi Wahid ada soothing effect pada Patung Beruang. I don't know why but rasa macam diri dan hati ini dipujuk agar lebih berlapang dada, apabila membaca tulisannya. Mungkin sebab tulisan dia berkisar kehidupan seharian kita, apa yang kita hadapi, apa yang kita rasa, apa yang kita fikirkan, apa yang terlintas dalam hati kita and so on..

After 2 books from him,  no doubt that he qualified to enter into My List of Favorite Authors, same group with Teme and Muharikah..hehehe... 

Saturday, February 15, 2020

Book Review : The Art of Letting God

Tajuk : The Art of Letting God

Penulis : Mizi Wahid 

Menariknya Naskah Ini : 
Patung Beruang sudah lama teringin nak memiliki buku ini. Tapi ada saja halangannya. Samaada budget bahan bacaaan untuk bulan tersebut sudah habis ataupun jika budget masih ada, buku pula tiada di bookstore. 

Minggu lepas, ketika pertengahan minggu hati ini meronta-ronta nak miliki juga buku ini. Beberapa hari sebelum itu, di Borders, buku ini sudah tidak lagi kelihatan di rak buku. 

Akhirnya, selepas kerja, Patung Beruang terus singgah di Kinokuniya KLCC. Mula mencari di rak-rak yang berkaitan. Diri ini tersenyum tatkala terlihat naskah ini elok tersusun di rak buku. Alhamdulillah. Pencarian membuahkan hasil. 


Naskah The Art of Letting God ini mempunyai 21 Bab yang disusun dengan cantik. Bab 1: The Greatest Temptation membawa pembaca betapa dalam hidup ini memang mudah untuk berputus asa. Sebenarnya, sangat mudah. Tetapi, perkara yang "mudah", atau sesuatu yang "mudah", logiknya tidak akan menghasilkan output yang hebat. 

Impian untuk menghuni Syurga Firdausi. Ironinya, tatkala Allah hadirkan sedikit ujian, diri sudah mula berputus asa, sedih, marah dan kecewa. Mula merasa diri ini tidak disayangi oleh Sang Pencipta. Mula terasa betapa tidak adilnya kehidupan ini. 

Perkara atau perjalanan yang "mudah" tidak akan memberikan kita pengalaman yang hebat dan ilmu yang menakjubkan, yang boleh kita kutip dan simpan seumur hidup ini. Atau mungkin boleh dikongsi untuk manfaat bersama. 

Perkara atau perjalanan yang "mudah" tidak akan mendewasakan kita. Tidak akan membangunkan potensi diri. Sayangnya, kita akan kurang menghargai atau mungkin melupakan terus pengalaman "mudah" ini.


Patung Beruang juga tertarik dengan Bab 7: What People Say yang mana banyak tips yang diberikan boleh diaplikasikan dalam kehidupan seharian, contohnya berdepan dengan individu yang toksik. Kita memang tidak akan dapat lari dari golongan toksik kerana memang itu lah nature manusia. Namun, dalam usaha kita menjauh dengan mereka, janganlah sampai kita memutuskan silaturrahim kerana tindakan ini bertentangan dengan ajaran Islam. 

Apa yang boleh dibuat mungkin adalah:
  • Menjaga jarak perhubungan kita dengan mereka. 
  • Kurangkan interaksi atau komunikasi samaada secara bersemuka atau tidak. 
  • Dalam keadaan hari ini, kurangnya melihat mereka di media sosial juga membantu. Tapi, tidak perlulah sampai ke tahap "unfriend" atau "blocking" kerana tindakan ini berpotensi mencetuskan provokasi yang lebih besar. Cukup sekadar perkembangan mereka tidak singgah di "wall" kita atau di "news feed" kita.  
  • Seperti kata penulis, "some people need to be loved from a distance." 

Tetapi, apapun yang kita lakukan diatas, bukanlah bermakna mereka itu tidak baik... Atau kita lebih baik dari mereka. Tidak!! 
Tetapi sebab ada certain perilaku  atau pemikiran mereka yang tidak selari dengan kita, which makes it unhealthy for us to continue staying too close to them. That's the main reason kenapa kita bertindak sedemikian.. 



Menikmati naskah The Art of Letting God ini, membaca satu persatu perkataan yang tercetak, seperti memujuk diri sendiri, memujuk hati sendiri. Soothing effect.. I don't know but that's what I felt... 

Diri yang sangat lelah dengan urusan dunia serta segala ketidak pastian dan ketidak tentuan. Hati yang sangat lelah dalam usaha untuk menjadi lebih baik, lebih bersih, lebih tenang dan lebih tetap. 

Ada masanya diri terasa seperti ingin tinggalkan saja segala-galanya. Tinggalkan begitu saja. Lari sehingga rasa penat dan tidak berdaya untuk melangkah. Tetapi, lari kemana? Apa tujuannya? Adakah dengan berlari akan menyelesaikan segala-galanya? Sudah pasti jawapannya tidak.... 

About Me

My photo
A simple girl who love books and teddy bears namely Bibi, Bunny and Dak Yot...