Saturday, February 21, 2026

Ramadhan 2026 dan Hari ke-309

Selesai sudah hari ke-3 Ramadhan, Alhamdulillah..

Untuk berbuka puasa hari ini, Patung Beruang masak bihun goreng saja.  Hiaslah dengan scramble egg, cili hijau potong dan bawang goreng. Simple. Nasib baiklah bihun ini, garam dan pedasnya just nice, Alhamdulillah.

Memasak ketika berpuasa ini biasanya Patung Beruang main agak-agak saja. Itu sebabnya sebelum makan, Patung Beruang akan cakap siap-siap -

"Kalau tertawar, termasin, terpedas, maafkan saya ye." 


Skrip ini sama saja setiap kali Patung Beruang masak. 

Kudap-kudapan pula ada anggur, salad dan samosa kentang. Cukuplah untuk Patung Beruang, Ibu dan Imran.


Rasanya seperti baru semalam Patung Beruang mengucapkan selamat tinggal pada Ramadhan di tahun 2025. Kini sudah bersua kembali. Ramadhan tahun lepas benar-benar memberi kesan pada Patung Beruang, susulan dari Ayah disahkan mengidap Kanser Hati di minggu pertama Ramadhan, dan seterusnya meninggalkan kami di pertengahan Syawal.

Sejak penghujung 2025, Patung Beruang mula rasa takut untuk menghadapi Ramadhan 2026 ini. Takut jika tahun ini Patung Beruang akan diuji lagi dengan kehilangan insan yang tersayang. 


Hari ini genap hari ke-309 Ayah pergi... Ramadhan pertama tanpa Ayah...

For me, loss of Ayah, the pain is indescribable. It starts with the sharp ache in my chest, like my heart has been torn apart. Days blur into nights, and the world around me moves on while I'm stand still, paralyzed by a grief that I cannot escape. 

I replay the moments over and over in my mind - what Ayah said, what I didn't say, what I could have done differently, along with all the other "what ifs". And honestly, with every thought, the weight grows heavier. 

I often feel alone, even in a room full of people, in a house full of family members. The silence becomes deafening, and the loneliness wraps itself around me like a heavy winter coat.  Family and friends tried to comfort me, but their words often feel hollow. 

"Be strong, Ilyana"

"It's time to move on, Ily"

"Kakak, you shouldn't grieve so long. He is in a better place now." 


Ya, they said so much comfort words. But, how do I move on when my heart refuses to let go? 

How do I find strength again when I feel like a shell of the person I once were? 


Strangely, I feel ashamed that I'm still hurting. Embarrassed that I can't seem to "get over it". I wonder if there's something wrong with me. Ibu and my siblings  seem to cope so well while I'm still drowning in the sea of sadness. 

But, the world expects me to bounce back, to be productive, to wear a brave face. So?

I end up burying my feelings, suppressing the tears, and pretending I'm okay. But, deep inside, the emptiness grows. I keep on telling myself to "just keep going", hoping that time will heal the wounds. 

But Ilyana, here's the truth: 

Time doesn't heal my wounds. Healing isn't automatic, it requires attention, reflection, and faith. 


I have a deep, unspoken pain that I didn't know how to process. When Nenek passed away in 2017, I've cried. I missed her so much. But, after a few days or weeks, I moved on. Same goes to when Atuk passed away in 2022. I was not hurt so much.


There were sleepless nights, the endless overthinking, the quiet moments when I felt like giving up. I carried heavy burden, a burden that I didn't know how to lay down to rest. 

Nak tahu tak apa yang paling penat?

Memakai topeng setiap hari tatkala keluar rumah. Penat. Sangat penat. Kerana perlu berpura-pura kuat, seolah tiada apa, seolah semuanya baik-baik saja. 

Since the world expects me to be productive - Yes, I comply. I am the same Ilyana that always high functioning, no matter what. Always composed. 

Tapi, bila masuk saja dalam kereta, or masuk saja dalam rumah, semua topeng itu akan terbuka sendiri. And there goes.. The real Ilyana. I will cry, cry and cry.. Or just merenung kosong, tembus ke dinding di condo sebelah. 

Solat? Baca Al-Quran? Tahajud di sepertiga malam? Yes.. I've done it.. sambil menangis teresak-esak. 

Sakitnya, Allah saja yang tahu. Indescribable pain. Tak tahu nak cerita macam mana.


Sampai bila nak macam ini? Soalan yang sering ditanya pada diri sendiri. 

Berbulan-bulan. Inilah keadaannya.


Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sedikit demi sedikit, Allah hadirkan bantuan. Allah kuatkan jiwa. Allah sembuhkan rasa sakit itu. Perlahan-lahan tapi berkesan.  

Pain is not a punishment. It is not a sign that Allah has abandoned me. Instead, pain is a test, a means of drawing closer to Allah and strengthening my faith. It may seem counterintuitive, but pain can also a sign of Allah's love.

Ada hadis Rasulullah SAW berbunyi: 

"Indeed, the magnitude of the reward is proportionate to the magnitude of the trial. And Allah loves a people, tests them. So whoever is content, for him is contentment (from Allah), and whoever is displeased, for him is displeasure." (Tirmizi) 


Why would Allah test those He loves? 

Because He knows that through these tests, we grow. Our hearts become softer, our reliance on Him becomes stronger, our faith get deeper. Pain has a way of defining the soul, much like fire purifies gold. 


How could we appreciate love if we never felt loneliness? 

Pain and pleasure, loss and gain, hardship and ease - all are part of the human experience, designed to teach us gratitude and perspective. 

Surah Al-Insyiraah, ayat 5 dan 6: 

"Indeed, with hardship comes ease. Indeed, with hardship comes ease." / Bahawa sesungguhnya, tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan. Bahawa sesungguhnya, tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan." 

See, the verse repeats itself. As though Allah is reassuring us, over and over, that pain is not permanent. Within every trial, there is a blessing. With every loss, there is an opportunity for gain. 



Untuk Ramadhan 2026, Patung Beruang cuma berazam untuk buat sehabis baik dan cuba istiqamah walaupun selepas berakhirnya Ramadhan tahun ini. Entah ada rezeki atau tidak untuk berjumpa lagi. In fact, kita pun tak tahu adakah kita sempat untuk jumpa ke penghujung Ramadhan kali ini. 


Dalam masa setahun, banyak yang Patung beruang belajar:

1st: Be it Ayah disahkan sakit. Ayah pergi. Is all painful moments. But, at the end I realize that pain is not my enemy. It is a teacher, a purifier, and, ultimately, a reminder of Allah's mercy. 


2nd: Don't ever leave the Quran. The Quran is our companion. The Quran acknowledges the human experience of despair but gently reminds us to hold on to hope: 

Surah Al-Hijr, ayat 56: 

"And who despairs of the mercy of his Lord except for those astray."  / "Dan tiadalah sesiapa yang berputus asa dari rahmat Tuhannya melainkan orang-orang yang sesat" 

We are not alone in feeling this way. Even Rasulullah SAW faced moments of despair. But, what we should do? Turn to Allah with our despair. Speak to Him in our prayers, share our fears, and seek His comfort. And reciting Quran can provide solace and remind us of Allah's presence.  

Jangan baca Quran cepat sangat. 

Baca dengan tertib, ulang berkali-kali,  fahamkan satu-persatu ayat yang ada. Cari buku-buku atau kelas-kelas yang dapat membantu Patung Beruang untuk tadabbur Quran. 

Perasaannya lain bila kita faham apa sebenarnya intipati ayat-ayat tersebut. Mendapat ilmu baru,  memberi pemahaman baru, membuka perspective baru. 


3rd: Always grateful and say "Alhamdulillah". For everything He gave to us, be it good or bad. Be it pleasure or pain. Everything. Even in the sorrows and sadness of grief, gratitude allows me to see the beauty of what once was. It shifts my focus from what I've lost to what I were blessed to have had. 

"Thank you Allah, for the wisdom that Ayah shared with me." 

"Thank you Allah, for my families' and friends' unwavering support when I needed it most." 

"Thank you Allah, for letting me experience this painful and sorrows moments, so I can be a better version of myself." 


4th: Sabar. Yes, sabar. Sabar (patience) is not about suppressing our emotions or pretending that everything is fine. Nope, is not.. 

Sabar is about finding the balance between acknowledging our pain and trusting in Allah's wisdom. Through sabar, I find the strength to endure, the clarity to seek healing, and the faith to trust that Allah's plan is always for my ultimate good. 


5th: Doa. Doa is not just a ritual. It is the heart's lifeline to Allah. It is an act of surrender, of trust, and of hope. It is the bridge between my pain and His mercy. When I feel helpless, paralyzed by sorrow, doa become a way to take action - both practical and spiritual. 

Sekecil-kecil benda pun Patung Beruang akan berdoa. Hatta, setiap kali drive pulang ke rumah Ayah di Melaka, Patung Beruang akan doa mohon Allah permudahkan perjalanan Patung Beruang, dilindungi dari kelewatan, kecelakaan, kemalangan, dan selamat sampai dalam waktu yang sepatutnya ke rumah Ayah. 

Sama juga bila Ibu minta Patung Beruang untuk keluar rumah belikan barang ketika Ibu dalam Iddah. Dalam perjalanan, Patung Beruang akan berdoa mohon Allah permudahkan semua urusan untuk beli barang-barang yang diminta dan pulang dengan hasil yang menggembirakannya. 

The truth is Patung Beruang tidak hafal banyak doa dalam bahasa Arab. Disebabkan itu, Patung Beruang lebih selesa untuk doa dalam Bahasa Melayu atau English kerana apa pun bahasa yang kita guna, Allah tahu. 

Kesimpulannya, doa saja. Walaupun kita rasa permintaan kita itu remeh, teruskan berdoa sebab tiada yang remeh pun disisi Allah.


6th: Find a way to immerse myself fully in the life that I've been given. To stop running from whatever I'm trying to escape, and instead, to stop and turn, and face whatever it is.

Yes, pemergian Ayah is a reality. Itu hakikat yang Patung Beruang kena terima. Menangis air mata darah sekalipun, Ayah tak akan hidup semula. Patung Beruang tiada pilihan kecuali terima kenyataan tersebut dan berdamai dengan takdir.

Hari berganti hari dan hidup perlu diteruskan. 

So, I have to walk toward it. In this way, the world has reveal itself to me as something magical and awe-inspiring that does not require escape. Instead, the world may becomes something worth paying attention too.  

Patung Beruang mula kembali kepada aktiviti yang Patung Beruang suka dan minat. Membaca, menulis, menikmati alam semulajadi, mencipta pengalaman baru, pergi ke tempat baru, berjumpa dan kenal orang baru. 

Percayalah, setiap pengalaman baru yang ditempuh, atau setiap kenalan baru, memberi 1001 cerita yang ada kalanya, tidak terfikir dek akal kita. 

Ibarat kita minum kopi. Setiap bean ada keunikkan rasanya. Dan setiap barista juga ada bancuhan signature nya. Hidangan kopi dari bean yang sama tapi barista yang berbeza, pasti menghasilkan rasa yang berbeza. 

Tugas kita sebagai peminum kopi - minum dengan perlahan-lahan, biarkan kopi itu melalui deria rasa di lidah, dan menikmati setiap kepahitan yang tercipta. Pahitnya kopi itu adalah satu kenikmatan untuk kami, yang hanya difahami oleh peminum kopi saja... 


Adakah Patung Beruang sudah kembali kuat? 

Well... Soalan itu tiada jawapan sebab diri ini tidak tahu dimana limitnya. Keadaan Patung Beruang pada hari ini di tahun 2026, jauh berbeza dengan tahun lepas. Alhamdulillah...


Yang pasti, 

bila setiap hari Patung Beruang bersemangat untuk bangun dari tidur walaupun ketika jam 4 atau 4.30 pagi, 

bersemangat untuk memulakan hari baru,  

bersemangat untuk pergi ke pejabat, 

bersemangat untuk bekerja, 

bersemangat untuk bertemu sesiapa saja yang Allah takdirkan pada hari itu,

bersemangat untuk bantu orang,

bersemangat untuk lakukan yang terbaik sebagai seorang hamba Allah,

bersemangat untuk melakukan sebanyak mungkin kebaikan dan saham akhirat, 

bersemangat untuk menjalani kehidupan sehabis baik, 

Patung Beruang rasa bersyukur sangat... 

Sebab Patung Beruang sudah rasa bagaimana menjadi manusia yang rasa kosong dan patah seribu. Bagaimana kena berpura-pura senyum dihadapan orang. 

Patung Beruang percaya, rasa semangat itu adalah rezeki dari Allah. Allah yang letakkan perasaan itu dalam hati ini. Jadi, hargailah nikmat tersebut...  



Itu antara pengajaran besar yang Patung Beruang perolehi selama setahun ini. 

Mengapa Patung Beruang kongsikan disini?

Kerana ada yang bertanya bagaimana Patung Beruang hadapi masa-masa sukar selepas Ayah pergi. Ada antara mereka yang turut diuji dengan kehilangan. Hilang orang tersayang, hilang harta benda, hilang hala tuju kehidupan dan sebagainya.

Makanya, Patung Beruang berkongsi disini dan semoga perkongsian yang tidak seberapa ini membantu mereka menghadapi hari-hari mendatang, Insya-Allah... 

Setiap orang ujiannya berbeza. Dan setiap orang juga ada garis masa sendiri. Tak ada satu manual yang sesuai untuk dipakai oleh semua orang dalam menghadapi ujian kehidupan. Cuma, apa pun keadaan kita, bagaimana teruk sekali kita jatuh, bagaimana jauh sekali kita tersasar, jangan sekali-kali lupakan Allah..That's it...

Book Review: Dopamine Nation


Tajuk: Dopamine Nation

Penulis: Dr. Anna Lembke

Menariknya Naskah Ini:

Alhamdulillah, ini adalah naskah ke-3 4 yang Patung Beruang berjaya habiskan untuk tahun ini. Perlahan, tapi konsisten. Dan setiap naskah yang selesai terasa seperti satu perjalanan kecil yang berhasil. 

Naskah ini Patung Beruang beli di Kinokuniya, cawangan Pavilion Damansara. 

On that night, Patung Beruang tak plan pun nak shopping buku. Niat asal cuma mahu "melawat" saja, kononnya mahu lihat perbezaan antara outlet di KLCC dan Pavi Damansara ini. 

Tapi biasalah ... untuk seorang bibliophile, masuk kedai buku tanpa membeli apa-apa itu rasanya seperti satu pengkhianatan kecil terhadap jiwa sendiri (drama sangat kan? hehehe..) 

Dan masalah sebenar bukanlah membeli satu buku tapi...  beberapa buah buku. Adoiii... Sabar je lah Patung Beruang ini..


Penulis naskah Dopamine Nation ini, iaitu Dr Anna Lembke adalah seorang psychiatrist dari Stanford yang banyak mengendalikan kes-kes berkaitan ketagihan (addiction). Naskah ini ditulis berdasarkan kajian neurology serta pengalaman klinikal beliau bersama pesakit-pesakit yang bergelut dengan pelbagai bentuk ketagihan.  

Naskah ini terbahagi kepada 3 bahagian iaitu:

  • The Pursuit of Pleasure 
  • Self-Binding
  • The Pursuit of Pain

Dalam naskah ini, Dr Anna menerangkan bagaimana manusia moden hidup dalam dunia yang terlalu mudah memberi keseronokan - daripada media sosial, makanan segera, pornografi, perjudian, dadah, sehingga budaya kerja yang tidak sihat atau obses. Semua bentuk keseronokan ini merangsang dopamine, bahan kimia dalam otak yang berkait dengan rasa nikmat, ganjaran dan motivasi. 

Tetapi, mesej utama naskah ini adalah: 

"Semakin kita mengejar keseronokan tanpa had, semakin kita terdedah kepada kesakitan." 



Dr Anna menjelaskan konsep "keseimbangan antara keseronokan dan kesakitan" (balance of pleasure and pain) dalam otak. Setiap lonjakan dopamine (pleasure) akan diimbangi oleh penurunan kesakitan (pain). 

Apabila kita terlalu kerap mencari ransangan, otak akan menyesuaikan diri dan menjadikan kita kebas - menyebabkan kita memerlukan lebih banyak rangsangan untuk rasa yang sama. Kita tambah dos. Tambah masa. Tambah intensiti. Inilah basis / permulaan kepada kitaran ketagihan. 

Selain itu, naskah ini juga turut memuatkan kisah pesakit-pesakitnya (tanpa mendedahkan identiti sebenar) dan bagaimana mereka pulih dari ketagihan melalui disiplin, kejujuran radikal terhadap diri sendiri, konsep "self binding" (menyekat diri daripada akses kepada godaan / punca ketagihan), dan tempoh "dopamine fasting" - iaitu berehat daripada sumber keseronokan untuk memulihkan keseimbangan otak. 


Jujurnya, Patung Beruang enjoy baca naskah ini kerana: 
  • Walaupun naskah ini membicangkan tentang neurological science, tetapi Dr Anna menulis dengan gaya santai dan mudah. Tidak terasa seperti membaca jurnal akademik  atau jurnal perubatan. 
  • Naskah ini sangat dekat dengan realiti kita - ketagihan telefon dan notification, obsesi terhadap validation dan attention, cinta yang terlalu melekat / obses / toxic, alcohol, sexual activities, dan termasuk juga kerja berlebihan yang kita romantiskan sebagai "hustle".  
  • Dr Anna tidak hanya bercerita tentang dadah dan alcohol, tetapi juga keseronokan yang dianggap normal oleh ramai orang seperti membeli-belah,  hubungan toxic, atau sekadar melarikan diri daripada rasa sunyi.  
  • Konsep "plenty mindset" vs "scarcity mindset" : plenty mindset dimana jika kita hidup dalam kelompok yang mementingkan integrity, sentiasa bercakap benar, reliable, rasa selamat - and tiba-tiba kita diuji dengan kesulitan, kita akan optimist. Hati atau fikiran akan berkata, "Tak apa, ini sementara saja. Semuanya akan ok nanti. Bertahan sedikit saja lagi." 
  • Scarcity mindset pula dimana jika kita dikeliling dengan mereka yang corrupt, no common sense, poor judgement, poor integrity - kita akan merasakan yang persekitaran itu tidak selamat dan aktifkan our competitive survival mode. Dalam situasi ini, kita pessimist dan mudah mengejar short-term gains over long-term ones. Kita akan jadi sangat pentingkan diri sendiri kerana merasakan itu adalah common behaviour.

Bagi Patung Beruang, naskah ini bukan sekadar tentang addiction. 
Ia tentang manusia kosong dan cuba mengisi kekosongan dengan sesuatu di luar diri. 

Kadang-kadang kita tidak sedar - kita bukan ketagih benda itu.
Tetapi, kita ketagih rasa "tidak mahu merasa sakit." 
Dan mungkin, itulah perkara yang paling menyentuh dalam naskah ini... 

Sunday, February 15, 2026

Hari ke-45, 303 Rindu - Antara Amanah, Laut dan Jiwa Yang Mula Sembuh

Hari ini hari ke-45 untuk tahun 2026. 

Bermakna sudah 303 hari Ayah pergi...


Patung Beruang melangkah ke 2026 dengan pelbagai cerita. Tugas hakiki dan tugas sampingan datang bersilih ganti. Amanah kepada stakeholders sama ada urusan rasmi atau peribadi, juga tidak pernah berhenti. Semuanya cuba dilakukan seikhlas hati, sehabis baik, Insya-Allah.. 


Awal February hadir dengan long weekend -  cuti Hari Wilayah dan Thaipusam yang bertindan. 

As usual, Patung Beruang pulang ke Melaka menyantuni keluarga. 4 hari yang padat, bukan sekadar menjelajah Melaka, malah sampai ke Johor sekali hehehe...

Selain menziarahi pusara Ayah, Patung Beruang turut melawat pusara Atuk, Nenek dan Nek Cau. Sempat juga singgah di rumah Atuk - memastikan rumah itu masih terjaga rapi.

Di halaman rumah Atuk, pokok kuini sedang berbunga lebat. Jika dilihat pada gambar itu, yang merah-merah itu semuanya bunga kuini. 

Dulu Ayah pernah pesan, bila cuaca terlalu panas, pokok-pokok akan "stress" lalu berbunga. Dari bunga itu lahir buah. Oleh itu, jangan merungut jika cuaca panas kerana ia adalah rezeki yang sedang Allah siapkan untuk kita, manusia dan haiwan. 

Kalau ada rezeki, Insya-Allah, Aidilfitri nanti dapatlah kami merasa kuini dari pokok ini. Tak sabar menunggu.


Walaupun rumah Atuk ini kosong, adik-adik Ibu rajin pulang membersihkan halaman. Rumput terpotong kemas, daun-daun kering disapu bersih. Terima kasih kerana sama-sama menjaga rumah kenangan ini. Semoga Atuk dan Nenek bahagia di Sana, Aamiin... 


Long weekend itu sangat bermakna. Bukan selalu ada peluang untuk duduk lama berbual bertanya khabar, berkongsi cerita kehidupan, bergurau-senda, menikmati juadah enak dan melayan kerenah anak-anak buah yang bijak. Terima kasih Tuhan atas nikmat masa, kasih sayang dan kudrat.


Namun, pada malam 3 February, Patung Beruang tersedar - diri ini terlalu penat. Penat fizikal, mental dan spiritual. Jadual padat, bertemu ramai orang, otak tidak berhenti berfikir. 

I need a vacation. 

Kali terakhir Patung Beruang bercuti adalah February 2025, sebelum Ramadhan.  Walaupun Imran dan Ibu bercuti pada September 2025, Patung Beruang tidak ikut. Hati terasa bersalah untuk berehat sedangkan Ayah sudah tiada. Seolah-olah berseronok itu satu pengkhianatan terhadap rindu. 


Malam itu, berbincang dengan Imran. Dia berkeras menyuruh Patung Beruang bercuti. A short one, alone, just to recharge myself. 

Imran paling tahu bagaimana Patung Beruang bergelut untuk kekal "high functioning" selepas kehilangan Ayah. Wajah tenang, senyum, sibuk bekerja, perform seperti biasa .... tetapi, hati sebenarnya pecah berderai. Jiwa mati. Tiada perasaan. 

Di pertengahan 2025, Patung Beruang pernah rebah menangis di rumah. Imran memeluk erat and he keeps on saying - "Cry Kakak. Just cry. Let go all your feelings. I'm here." 

Pelukannya terasa sama seperti Ayah selalu peluk Patung Beruang. Erat, rasa selamat, damai, tenang, seolah-olah masa dan semua kebisingan dunia ini terhenti seketika. Hari itu, air mata Imran juga menitis...

Terima kasih Tuhan atas adik lelaki yang baik, bijak dan penuh empathy.


Berbulan-bulan Patung Beruang berdoa agar Allah pulihkan semula jiwa ini, kembalikan rasa sebagai seorang manusia. 

Allah dengar. Perlahan-lahan Patung Beruang mula nampak bantuan dari Allah.. Bermula dari penghujung November 2025, cahaya itu datang kembali.


So, that night on the 3 February, Patung Beruang decide untuk go for short getaway, alone...


Esoknya, Rabu 4 February, Patung Beruang terus bagitau Khairel that I need to take 2 days leave on 9 and 10 February. Alhamdulillah, Khairel ok sebab dia faham yang Patung Beruang jarang sangat cuti. Once Khairel approved cuti Patung Beruang dalam sistem, teruslah Patung Beruang book hotel. Hooray.. 


Hari Rabu yang sama, after Isyak, Patung Beruang duduk dengan AJ di Zus cafe, di bawah condo Patung Beruang.  A serious topic, about money laundering in 1 organisation and his exit plan. 

Haish... This guy memang selalu buat Patung Beruang risau. AJ ini 7 years younger than me. He is a smart guy but his curiosity is so high and abnormal. Almost jeopardies his safety. Patung Beruang selalu pesan pada dia, 

"AJ, please exit soonest possible. If anything happens to you, how should I answer to your family, your father, your wife, if they ask me, Kak Ily, have you ever advised AJ to stop from whatever he is doing now?  I'm not asking you as a former superior, but as a sister who concerns so much on her younger brother." 

Alhamdulillah, that night, AJ shared his exit plan and the tentative date. Lega Patung Beruang but not 100% selagi tak sampai the D-Day.. So now, I'm anxiously waiting the D-Day and hopefully, things will execute as per planned, Insya-Allah.. 


Hari Sabtu, 7 February, appointment with last stakeholder, Miss A. We decided to meet at Pavilion Damansara. Initial plan, just 2 hours session but it continued more than 4 hours because during the discussion, both of us realized that there is a bigger elephant in the room. 

That day, the consultation was about managing the start-ups for one of state owned company. Amongst the biggest issue are many C-suites in that organisation, thus the execution part is very slow. No minions to execute ground works. The worst part is their cash flow can sustain up to a year only if they are operating in a same mode as at now. Oh man... this is totally crazy..

That's why Patung Beruang not encourage for organisation to lead and dominate by dinosaurs. Orang selalu argue dengan Patung Beruang - 

"Ilyana, orang muda tak banyak pengalaman, tak banyak network. Tu sebab kita perlukan mereka yang berumur untuk jadi C-Suite."

Well... we need hunger people to lead a company. Energetic, aggressive, brave, do it type instead of meeting type, yang boleh kerja around the clock, yang tak fikir pasal retirement etc.  Pengalaman tak akan diperolehi selagi tak diberi peluang. Network? Boleh establish.. 

For me, age mid-40s dah boleh jadi C-suite. Yes, they will do lottttt of mistakes, it is expected but that is the learning process. And trust me, by the age of 50s, mereka dah matang, dah faham sepak terajang, game and strategy di top level, dah kenal siapa kawan, siapa musuh, and they will become a good leader. Maintain a good momentum, support by good team / think-tank, the company will fly higher until the C-suite age of 60s.. Patung Beruang dah pernah jumpa seseorang yang macam ini, as a living proof.. 

For Miss A's case, there are some strategies to ensure the company stay afloat. But, I'm not sure how strong she is to fight with all those dinosaurs. May Allah ease all her good intentions, Aamiin...


Ahad, 8 February - Hooray, masa untuk getaway. Alhamdulillah, Allah permudahkan perjalanan Patung Beruang, memandu hampir 3 jam. Akhirnya selamat sampai ke destinasi, selamat check-in di Hyatt Regency Kuantan. 


Patung Beruang drive santai-santai saja sambil layan playlist Afgan di Spotify. Jangan risau, Patung Beruang tak tekan pun sampai 150 - 160km/hour seperti biasa. Paling laju cuma 140 je, hehehe.. 

Kalau surat saman sampai ke rumah, redha je lah..  


Patung Beruang dapat the best room with the best view. Balcony mengadap swimming pool dan laut. Terus jatuh cinta dengan bilik ini. 

Sepanjang disana, cuaca sangat baik, Alhamdulillah... 



Rutin Patung Beruang disana simple saja. 

Briskwalk di sepanjang pantai setiap pagi (selepas breakfast) dan setiap petang, selepas Asar. Duduk di atas pasir sambil membaca buku, ditemani bunyi ombak yang menghempas pantai. 

Menikmati udara segar, tiada bunyi kenderaan, bilangan manusia yang sangat minimum, I'm in heaven... 

Hari ke-2, Patung Beruang sempat ke spa. Sedap tetapi, my personal masseur di Bangi tetap nombor satu. She with me since years ago, much before Covid and she knows all my pain points. 

 


Patung Beruang suka juga duduk di cafe. Menikmati kopi dan light bites, sambil membaca buku atau menulis journal. Matahari terbit dan terbenam menjadi saksi, nikmat Tuhan mana yang Patung Beruang ingin dustakan?


Percutian singkat selama 3 hari 2 malam ini memang sangat menenangkan. Antara nikmat terbesar adalah my body clock kembali normal, Patung Beruang mampu terjaga seawal 4 pagi atau 4.30 pagi. Dan rutin pagi kembali hidup. Alhamdulillah... 


Disana juga, Allah kirimkan 2 pertemuan yang mengesankan... 

My 1st new friend was Malaysian Chinese lady, also a guest. Dia tertarik dengan buku Dopamine Nation yang Patung Beruang sedang baca. This lady bercerita tentang hidup dia, just retired in January 2026 and now menikmati percutian singkat sebelum CNY. Beliau sebatang kara selepas Covid-19 meragut nyawa suami dan anak tunggalnya. Well educated lady, sebelum ini bekerja di one of top law firms in KL. Patung Beruang tahu law firm tersebut, one of our panel for arbitration masa di company lama dulu. 

Sebak juga dengar beliau bercerita bagaimana sukarnya beliau untuk bangkit dan teruskan hidup selepas kematian suami dan anaknya. Banyak kali beliau cuba untuk bunuh diri, tapi setiap kali itu, ada saja pertolongan yang datang dari Tuhan, isyarat jelas yang masanya masih belum sampai. 

Ketika beliau leka bercerita, Patung Beruang perasan pergelangan tangan dia ada parut macam barcode, setiap kali lengan baju dia tersingkap. Yes, I know that scars... Scars yang selalu Patung Beruang jumpa setiap kali baca buku-buku tentang suicidal thoughts or mental health.

Untuk CNY tahun ini, beliau pun tak tahu nak buat apa, atau nak kemana. Tahun-tahun sebelum ini, beliau melancong ke luar negara. Cuma tahun ini beliau tak rasa untuk meneruskan rutin yang sama. Katanya, mungkin just pergi window shopping di TRX dan selepas itu duduk makan atau lepak di cafe. 

Disini, beliau masih bernafas, masih mencari makna kehidupan...


My 2nd new friend adalah seorang staff hotel, a young Malay boy age around 19. Patung Beruang namakannya Alif. Sebenarnya, dari hari pertama Patung Beruang check-in di hotel, Patung Beruang kerap terserempak dengan Alif. Hari ke-2, ketika Patung Beruang sedang duduk di bangku mengadap pantai, sambil menunggu matahari terbenam, Alif datang dan minta izin untuk duduk di bangku sebelah Patung Beruang. No issue, Patung Beruang benarkan. Kami berbual tentang hotel tersebut, sudah berapa lama Alif bekerja di situ, latar belakang keluarganya. Bila bercerita tentang keluarganya, Patung Beruang perasan air mukanya muram. 

Alif anak sulung dari 5 beradik. Ayah sudah meninggal beberapa tahun lepas, dan ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Selepas SPM, walaupun resultnya cemerlang, Alif putuskan untuk bekerja instead of sambung belajar. Adik-adik yang lain masih bersekolah dan belanja keluarga makin meningkat. Tak sampai hati lihat ibu seorang bertungkus-lumus mencari nafkah. 

Alhamdulillah, di hotel ini Alif dikelilingi senior-senior yang baik, yang tidak lokek untuk berkongsi ilmu. Alif teringin untuk sambung belajar tapi dia tahu, jika dia berhenti kerja, keadaan kewangan akan meruncing. Ibu semakin tua dan kerap sakit. Jadi Alif satu-satunya harapan keluarga. 

Patung Beruang hanya mampu mendengar dan validate his sadness, his worries or whatever feelings that he has at that time. Patung Beruang pujuk dia, menjadi anak sulung ini memang tidak mudah. Tanggungjawab besar dan kita selalu fikirkan tentang keluarga sebelum diri sendiri. 

Namun, setiap pengorbanan itu Allah nampak dan Allah kira. Setiap kejayaan adik-adiknya kelak, pahala juga mengalir untuknya. Hidup ini bukan perlumbaan. Setiap orang ada garis masa sendiri. Insya-Allah, satu hari nanti ada rezeki Alif untuk sambung belajar. Sementara itu, kerja saja dengan bersungguh-sungguh dan buat sehabis baik.


Selain dari kawan baru, Patung Beruang juga dapat special treatment dari chef setiap kali makan. Ada saja dessert or menu eksperimen yang dihantar ke meja  tanpa Patung Beruang minta, and on the house. Terima kasih chef. My tummy is happy, my soul is happier, hehehe.. 

Bila Patung Beruang cerita dengan Imran, he said that could be mereka simpati lihat seorang wanita duduk bersendirian dengan buku. So it's a kind gesture, they hope it will make my day. 

Apa pun sebabnya, terima kasih Tuhan atas kiriman rezeki yang tidak disangka, jumpa dan kenal insan-insan yang baik, dilayan dengan baik, dipermudahkan semua urusan sepanjang Patung Beruang disana. Alhamdulillah... 


Dan.... sepanjang disana, adakah Patung Beruang tidak teringat pada seseorang yang jauh merentas benua? 

Yang pernah Patung Beruang nukilkan beberapa catatan untuknya disini...

Hm... 

Tipulah kalau kata tidak. 
Of course Patung Beruang teringat.

Laut yang terbentang luas itu selalu mengingatkan pada dia. Nama itu tetap singgah di fikiran ini. 

Kalau ikut hati, mahu saja Patung Beruang bertanya - 
"Awak ini tak penat ke selalu datang melawat hati dan fikiran saya? Kita ini jarak jauh tau."

Tapi... memang tak lah Patung Beruang nak cakap betul-betul dengan dia macam itu. 
Dah lama hidup ke, Ilyana? huhuhu...



Well.. 
Terima kasih kerana masih hadir dalam ingatan. Setiap kali nama itu muncul, Patung Beruang hanya mampu tersenyum dan berdoa agar Allah sentiasa melindungi dan memelihara dia dimana pun berada, dipermudahkan segala urusan dunia akhiratnya. Aamiin.. 

Nanti Patung Beruang tulis 1 entry khas untuk dia disini, Insya-Allah... 


Percutian ini bukan tentang lari.
Ia tentang kembali.
Kembali kepada diri.
Kembali kepada rasa. 
Kembali kepada hidup. 



Oklah, panjang pula Patung Beruang meluah malam ini. Baiklah, sudah sampai masa untuk tidur..


Untuk dia disana - Take care ya.

Book Review: Saudagar Impian


Tajuk: Saudagar Impian

Penulis: Muhd Mansur Abdullah

Cerita Patung Beruang: 

Ini adalah naskah ke-3 yang berjaya Patung Beruang selesaikan pada tahun ini, Alhamdulillah. Sebenarnya, Patung Beruang sudah tamat membacanya pada 5 February, cuma baru hari ini ada ruang untuk berkongsi disini. Maaflah ye.. 

Beberapa minggu kebelakangan ini memang agak mencabar. Patung Beruang sibuk dengan tugas hakiki sama ada planned atau ad hoc assignments. Dalam masa yang sama, ada juga beberapa stakeholders yang memerlukan my consultations. 3 stakeholders from 3 different organisations. 

Jadual Patung Beruang memang padat. Sampai ada yang sanggup bertemu di Zus, di bawah condo Patung Beruang ini, selepas waktu kerja. Sabar saja lah, hehehe...

Appointment with the last stakeholder pula Patung Beruang tunaikan pada hari Sabtu, hari terakhir sebelum Patung Beruang pergi vacation. Mengikut perancangan asal, our session should be 2 hours only. Unfortunately, situasi dan risks yang dibincangkan jauh lebih kritikal daripada jangkaan. Makanya, session tersebut berlangsung lebih 4 jam. Masih ingat lagi, hari Sabtu tersebut Patung Beruang pulang ke rumah dalam keadaan terlalu letih. Energy benar-benar habis. Selesai saja solat Isyak, seawal 9.15 malam Patung Beruang sudah tidur. 


Kisahnya Naskah Ini: 

Novel Saudagar Impian ini Patung Beruang ambil masa kurang seminggu untuk selesaikan pembacaannya. Dengan ketebalan 359 mukasurat dan sarat dengan monolog, Patung Beruang memilih kaedah speed reading. Yang penting, plot-plot penting untuk cerita ini tetap dapat ditangkap, hehehe.. 

Naskah ini mengangkat beberapa watak utama iaitu: 

  • Encik Kadir - usahawan dan pemilik Syarikat Lombongmas Sdn. Bhd. Sebelum itu, Encik Kadir berkhidmat di External Energy Groups sebagai Pegawai Pemasaran. 
  • Jali - anak tunggal Encik Kadir. Graduan universiti di USA. Sekembalinya ke Malaysia, Jali dilantik sebagai Pengarah Eksekutif Syarikat Lombongmas. Tugas utamanya adalah menguruskan syarikat, memastikan syarikat mencatat keuntungan tinggi dan mengalahkan pesaing mereka, External Energy Groups. 
  • Dato' Azmi - pemilik External Energy Groups.  
  • Annie - anak Dato' Azmi, rakan seuniversiti Jali di USA. 
  • Eddy - rakan seuniversiti Jali dan Annie. Ayahnya, Encik Khalid adalah rakan kongsi Dato' Azmi. Eddy kini CEO External Energy Groups. 

Cerita bermula apabila Encik Kadir dipecat dari External Energy Groups atas tuduhan pecah amanah. Pemecatan itu menanam dendam mendalam terhadap Dato' Azmi dan Encik Khalid. Lalu dia menubuhkan Lombongmas dengan tekad untuk mengalahkan bekas majikannya. 

Dalam usaha membangunkan syarikat, Encik Kadir dan Jali berkenalan dengan Jimmy, seorang ahli perniagaan muda dengan gaya hidup mewah. Jimmy kemudian menyertai Lombongmas sebagai rakan kongsi. Setelah itu, Encik Kadir menyerahkan sepenuhnya operasi syarikat kepada Jali dan Jimmy. 

Didorong dendam, Jali membuat keputusan mengahwini Annie demi memastikan syarikat Dato' Azmi jatuh ke tangannya. 

Namun ketamakan mula menguasai. Jali terlibat dengan perniagaan haram yang diusahakan Jimmy termasuk pemerdagangan manusia, dadah dan kelab malam. Kekayaan yang datang secara mendadak menimbulkan kecurigaan dalam hati Annie dan Encik Kadir. Nasihat demi nasihat diberikan, namun Jali tetap hanyut.



Jujurnya, Patung Beruang kurang menikmati naskah ini. 
Pertama, terlalu banyak monolog daripada Encik Kadir dan Jali. Gaya monolognya pula terasa seperti novel Jepun lama - berat, menekan emosi dan seolah-olah tidak berpenghujung. 

Kedua, jalan ceritanya mengingatkan Patung Beruang kepada drama TV3. hehehe.. Kisah korporat, dendam, pengkhianatan, ketamakan melampau hingga lupa batas agama, watak baik yang terlalu "sempurna", dan pengakhiran yang agak cliche.  Yang jahat menerima balasan, watak sampingan ditimpa penyakit sebagai kifarah dosa silam.

Haishh.. mungkin kerana jalan cerita sebegini kurang berpijak dibumi nyata, Patung Beruang sukar untuk benar-benar menikmati kisahnya...

Well... nampaknya buku ini akan diletak saja di perpustakaan awam. Maaflah ya, kali ini ia tidak berjaya menambat hati untuk duduk di rak buku peribadi Patung Beruang... 

About Me

My photo
A simple girl who love books and teddy bears namely Bibi, Bunny and Dak Yot...