Wednesday, April 29, 2026

Book Review: Grieving With God


Tajuk: Grieving With God 

Penulis: Mizi Wahid 

Cerita Patung Beruang: 

Ini adalah naskah ke-7 yang berjaya Patung Beruang selesaikan pembacaan untuk tahun ini, Alhamdulillah. 

Mizi Wahid is one of my favourite authors. Kebiasannya beli saja buku beliau, Patung Beruang akan terus baca. Bermakna, karya-karya beliau ada keistimewaan untuk skip my to-do-read list, hehehe.. 

Anehnya, ia tidak berlaku untuk naskah ini. 

Naskah ini Patung Beruang beli di Kinokuniya Pavilion Damansara, penghujung tahun lepas. Selepas beli, naskah ini elok saja terletak di atas meja kerja didalam bilik tidur. Entah mengapa, Patung Beruang tidak rasa untuk membacanya walaupun Patung Beruang sedar topik yang ditulis untuk naskah ini sangat dekat dengan hati ini. 

Sehinggalah ketika Syawal baru-baru ini, Patung Beruang dikejutkan dengan kehilangan ahli keluarga terdekat. Berhari-hari Patung Beruang rasa sesak sangat dada ini. Sehingga di minggu ke-3 Syawal, Patung Beruang ternampak naskah ini di atas meja dan tergerak hati untuk mula membacanya. 

Dan seperti dijangka, tulisan Mizi Wahid ada soothing effect. Seperti seorang ayah yang sedang memberi nasihat pada anak yang sedang rapuh. Tutur kata yang lembut, intonasi yang mendamaikan dan cukup untuk memujuk hati yang sedang rawan. 


Menariknya Naskah Ini: 

Naskah Grieving With God dimulakan dengan detik-detik wafatnya Rasulullah SAW di Madinah. Bagaimana reaksi dan penerimaan Abu Bakar dan Umar, 2 orang sahabat baik Nabi Muhammad SAW ketika situasi tersebut. Kedua-dua mereka sangat mencintai Nabi terakhir ini, dan kedua-duanya bersedih dengan cara yang berbeza. 

"Umar - the embodiment of strength and justice, initially could not accept the grief. His heart refused to believe that the Prophet (SAW) could leave them. His sorrow erupted as denial, anger, and defiance. It was raw, uncontrolled grief. 

Abu Bakar, on the other hand - always composed, always steady, grieved with silent tears, deep kisses, and words of unwavering faith. His sorrow was wrapped in acceptance and submission to Allah's perfect decree."


Kesedihan kedua-dua sahabat Rasulullah SAW ini mengajar kita tentang walau betapa jatuhnya kita ketika itu, jangan sekali-kali ia menggoyahkan pergantungan kita kepada Allah SWT. Kerana pada akhirnya, hanya Allah SWT adalah sebaik-baik Perancang, ilmu dan kekuasaan-Nya tidak terbatas. 

Loss (Kehilangan) bukan semata-mata kerana kematian insan yang tersayang. Episod kehilangan itu sendiri besar maknanya. Perhaps we've experienced the heartbreak of a failed relationship, the anguish of losing job that defined us, or the emptiness that follows the collapse of a dream. Each loss carries its own weight, its own storm. 


Bab 2, penulis berkongsi tentang understanding grief. Grief is a universal experience, yet it manifests differently for each person. It is the emotional, physical, and spiritual reaction to loss - a complex process that impacts the very core of who we are. 

As per my experience, grief is not simply an emotion. It is a journey where we can feel disorienting, exhausting, and, at time, overwhelming. 

There are 5 stages of grief that illustrated as Elisabeth Kubler-Ross model which are: 

  • Denial - the mind's way of protecting itself from the full weight of the loss. It's the initial reaction of disbelief, where we might find ourselves thinking, "This isn't real. This can't be happening."
  • Anger - As the reality of the loss sets in, anger often follows. It can be directed at others, at oneself, or even at Allah. We keep on asking, "Why me? Why now? Why did Allah allow this to happen?" 
  • Bargaining - In the bargaining stage, we often find ourselves clinging to "what ifs" and "if only". It's an attempt to regain control in a situation where we feel utterly powerless. Bargaining is also the stage where many turn to Allah with desperate prayers. 
  • Depression - This is often the heaviest stage, where the weight of the loss feels unbearable. A sense of emptiness, hopelessness, and isolation takes over. 
  • Acceptance - Acceptance is not about forgetting the loss or pretending it doesn't hurt. It's about coming to terms with the reality of what has happened and finding a way to move forward with faith and purpose. It's recognizing that while life may never be the same, it can still hold meaning and joy. 


One of the most insightful concepts that Patung Beruang encountered in this book is the 5 phases of healing, explored through the lens of Islamic teachings and values as follows: 
  • Phase 1: Initial Reaction (Shock) - The immediate emotional response to loss is often one of shock. The suddenness of death or separation can leave a person feeling numb, disoriented, or overwhelmed. 
  • Phase 2: Spiritual Response (Patience / Sabar) - Once the initial waves of grief subside, Islam calls the believer towards patience. Patience is an active, hopeful, and trusting state upon Allah The Most Wise. To bear grief without complain, while allowing oneself to feel and eventually heal. 
  • Phase 3: Emotional Response (Sorrow and Crying) - Islam validates sorrow. Feeling sadness is not a sign of weak faith, but rather a reflection of the heart's tenderness and depth. Sadness, when channeled with sincerity, can become a bridge that brings the heart nearer to Allah, transforming pain into devotion. 
  • Phase 4: Spiritual Acceptance (Acceptance of Takdir) - Understanding that everything occurs by Allah's will and wisdom. 
  • Phase 5: Transformation (Turning Grief into Power and Purpose) - The final and most empowering stage is when grief becomes a force for greater faith, courage, and contribution. True healing comes not just from remembrance, but from channeling the pain of loss into strength and service. 


Bab 5: Faith in the Face of Despair. 
Seperti yang Patung Beruang sebut diatas tadi, grief is a journey. One that ebbs and flows, sometimes catching us off guard when we least expect it. 

First, we have to validate our pain. It is ok to feel despair. It is ok to feel lost, to cry, to question, and to struggle. These emotions are sign of our humanity, not a sign of weakness. 

When despair feels overwhelming, take small, deliberate steps to reconnect with life such as: 
  • Seek Support - Talk to someone we trust. Sharing our pain lighten the burden. 
  • Rebuild Routines - Grief disrupts life, but slowly re-establishing daily habits can help create a sense of stability. 
  • Engage in Worship - Solat, zikir, and reciting Quran can provide solace and remind us of Allah's presence. 
  • Find a Purposeful Outlet - Volunteer, start a project, or dedicate time to something our loved one cared about. Turning our grief into action can be healing. 
  • Take It One Day at a Time - We don't have it all figured out. Focus on today, and let tomorrow come in its own time. 


Karya Mizi Wahid jarang mengecewakan. Dan naskah ini juga tidak terkecuali. Kini Patung Beruang faham mengapa Allah gerakkan hati ini untuk membelinya tahun lepas tapi tidak terus membaca. Rupanya, Allah nak beri masa yang paling tepat untuk Patung Beruang teliti satu-persatu initipati dari naskah ini, Alhamdulillah. Benarlah, perancangan Allah itu sentiasa yang terbaik. 

Patung Beruang baca naskah ini perlahan-lahan. Baca sedikit demi sedikit ketika lunch hour ataupun sebelum tidur. Ada banyak kupasan dalam naskah ini yang Patung Beruang berhenti seketika untuk refleks apa yang diri alami selama ini, dan bagaimana untuk memperbaikinya, supaya grieving itu tidak berlarutan. Ini antara buku yang banyak Patung Beruang tulis notes, gariskan point-point penting dan juga letak sticker, supaya mudah untuk diri ini rujuk semula di kemudian hari.

Generally, we don't have to go through this grieving alone. It's ok to feel broken, to ask questions, and to heal slowly.  Naskah ini penuh dengan tips dan panduan for the grieving soul. Ultimately, this book helps us to make sense of the pain, find hope in the silence, and remember that God never leaves a grieving heart unanswered. 

Our grief is a reflection of our love. And that love is something that no one can ever take away from us.
But, remember this.. 
Allah is with us. He sees our tears, hears our prayers, and knows the ache in our heart. And He is closer to us than our jugular vein. 
So, take our time to grieve. No rush, no deadline. 
But.. 
Don't let our grief define us. Because we are so much more than our pain. We are a person with a purpose, a heart capable of so much more, and a soul destined for eternal peace....  

Wednesday, April 22, 2026

Kisah Interview - Demi Mencari Staff Terbaik







Beberapa minggu ini Patung Beruang ada interview sessions hampir setiap hari, demi mencari calon yang benar-benar sesuai untuk mengisi beberapa kekosongan di Department kami. 


Sebenarnya, proses recruitment ini memenatkan. Ia memerlukan tenaga, masa, dan focus yang tinggi.

Setiap CV yang diterima, perlu diteliti satu persatu. Seterusnya, kita akan pilih calon yang layak untuk di interview. Bila interview pula, bukannya sekadar perbualan kosong tetapi setiap soalan yang ditanya ada hala tujunya. Selepas interview, kena analyse pula adakah calon ini sesuai atau tidak. Ada evaluation form yang perlu diisi dengan teliti dan dikembalikan kepada HR, bersama dengan keputusan to hire, to reject or to KIV. 


Diatas kertas, ramai calon yang nampak hebat.  

Nak chartered accountant? 

Pilih sajalah.. 

Nak ACCA, MICPA, ICAEW semua ada.. 

Belum campur yang ada CFA, CFE, CISA, CIA.. just name it. 

Dan ketika interview pula, jika calon itu petah berbicara, kita boleh nampak betapa mereka seronok menggoreng, hehehe.. Hence, our thoughts as interview panels are often blurred by all these distractions. It becomes indistinct and nebulous. 


Makanya, macam mana nak pilih calon terbaik untuk kita hire? 

Biasanya, benda pertama sekali yang Patung Beruang buat adalah Patung Beruang akan selalu doa pada Allah, mohon dipermudahkan proses recruitment ini dan ditemukan dengan calon yang terbaik untuk bekerja dengan Patung Beruang. Mungkin orang akan cakap; 

"Seriouslah Ilyana, benda ini pun nak doa ke?" 

Yes, serious. This is what i'm doing for so many years sejak terlibat dengan recruitment untuk my own team. 


Honestly, Patung Beruang sangat cerewet untuk pilih subordinates / team members. Sebab tak semua orang mampu ikut rentak kerja diri ini. Ye, kita faham yang capabilities, competencies and learning curve setiap orang berbeza. Makanya, untuk mengelakkan kemudaratan di kedua-dua belah pihak (i.e. Patung Beruang dan subordinates) di kemudian hari, lebih baik kita buat screening sehabis baik. 


Bagi Patung Beruang, mencari staff terbaik bukan sekadar melihat resume yang cantik, tetapi memahami siapa mereka disebalik kertas tersebut. Dalam proses recruitment, ada beberapa perkara penting yang boleh membantu kita membuat pilihan yang tepat: 

  • Jelas dengan keperluan sebenar - Sebelum mengiklankan jawatan kosong, fahami betul-betul apa yang organisasi / department kita perlukan. Bukan sekadar ikut template recruitment biasa. Kadang-kadang kita perlukan staff dengan attitude yang betul, lebih daripada skill. 

  • Fokus pada sikap, bukan hanya pengalaman - Skill boleh diasah, tetapi sikap sukar diubah. Cari individu yang ada rasa tanggungjawab, keinginan untuk belajar dan jujur. Bukan sekadar perfect scorer untuk akademik. 

  • Gunakan soalan yang "membuka cerita" - Elakkan soalan terlalu umum. Tanya soalan berbentuk situasi seperti "Apakah audit yang paling mencabar yang anda pernah execute and bagaimana anda menghadapinya?" 

  • Nilai keserasian dengan budaya kerja - Calon yang hebat belum tentu sesuai dengan budaya organisasi / department kita. Pastikan nilai mereka selari dengan nilai syarikat. Paling penting, gaya komunikasi dan kerja mereka boleh blend dengan pekerja sedia ada di organisasi / department tersebut.

  • Jangan tergesa-gesa membuat keputusan - Ambil masa untuk menilai. Kadang-kadang "calon terbaik" bukan yang paling menonjol tetapi yang paling konsisten. Memanglah kita nak isi kekosongan yang ada dengan secepat mungkin tetapi jika terlalu gopoh takut tersalah pilih pula. Lebih baik kita kekurangan staff berbanding ada staff tetapi tidak mampu memenuhi expectation kita. Atau ada staff tetapi tak competent. 

  • Trust your judgment, but verify - Gunakan reference check atau tugasan ringkas untuk melihat kemampuan mereka. Tahun-tahun sebelum ini, Patung Beruang biasanya akan bagi IQ test dan / atau report writing test untuk melihat capability calon yang datang interview. Selain itu, Patung Beruang juga akan gunakan reference check melalui referee yang mereka stated di CV atau pun melalui kenalan sendiri yang ada dalam organisasi atau industry mereka.  


And last but not least, turning our inner voice for guidance after praying to God for direction. Usually, dalam proses screening ini, with so many noise surrounding us, our "vision" can get pretty clouded. We won't be able to think rationally, or see things from a clearer perspective. To overcome this, we'll need to declutter our heart with some "spring cleaning". 

During this screening process, any gut feel, instinct, or intuition is really helpful. This is actually an instrument given by Allah to us. 


Bila cakap pasal instinct ini, Patung Beruang ada kisah yang benar-benar berlaku: 

In 2022, Patung Beruang dapat 1 additional headcount but for Executive level. Oleh kerana cuma ada 1 tempat kosong saja, Patung Beruang minta HR iklankan vacancy tersebut selama 2 minggu saja. Not more and not less. 

Selepas 2 minggu, CV yang dapat lebih kurang 50 ke 60. Tetapi yang Patung Beruang shortlisted for interview cuma 6 orang saja. 

Dalam 6 orang ini pula, ada seorang candidate yang pertama kali Patung Beruang lihat CV dia, my instinct terus cakap; 

"This guy will be a good staff for my Department."

Tidak tahu mengapa, tetapi gerak hati itu sangat kuat. 


This guy is 13 years younger than me. Berasal dari Perlis, budak sekolah biasa but result SPM dia perfect score. Selepas diploma, he has 1 year gap then baru sambung degree di UUM. Result diploma dan degree dia pun hebat. 

Patung Beruang letakkan dia sebagai candidate terakhir untuk interview. During the interview session, baru Patung Beruang tahu yang this guy datang dari keluarga susah. So the 1 year gap between diploma and degree was because that time, he worked in hotel in Langkawi to help his family financially. 


The interview went well. Panels were myself, Yusri (my assistant) and HR personnel.

Selesai saja interview, selepas the candidate keluar dari meeting room, Yusri terus cakap dengan Patung Beruang: 

"Kak Ily, it so obvious that you like this candidate. Sepanjang kita interview candidate lain, saya tak pernah nampak Kak Ily senyum macam ini. Kak Ily hire saja dia, I have no objection." 

Patung Beruang macam hm... nampak sangat ke that I really like him? hehehe.. 


Eventually, yes, we hired him for an Executive position. 


Dan yes, instinct Patung Beruang betul.

He is a smart guy, fast learner, possess good attitude, sangat behave and always eager to explore new things. 


Until now, we still keep in touch although we are no longer working in the same organization. He still contacted me, ask advice not just about audit or corporate, but about life as well. 

He will message; 

"Kak Ily, I want to share my latest report with you."

"Kak Ily, helps.. I need your advice."

"Kak Ily, i'm stuck!!!"

"Kak Ily, head hunter contacted me. Should i go to new place?" 

"Kak Ily, my BAC request this.. this.. this.. How should i do?" 


Haish... tak pasal-pasal Patung Beruang dapat adik lelaki yang lain mak dan lain bapa, hehehe.. Sabar je lah.. 

But Patung Beruang ok je. No harm pun kita guide mereka. These are young generation of auditors that will replace my batch later. Of course, we want them better than us. 

Now, after 4 years, he is the Assistant Manager Internal Audit in a public listed company, with a few staff reporting under him. Patung Beruang seronok lihat perkembangan career dia and pray the best for him. 



So, untuk recruitment kali ini, do I have the same instinct? 

Hm.. honestly yes.. 

Dalam ramai-ramai candidates yang Patung Beruang dah interview sejak beberapa minggu ini, cuma ada seorang saja candidate yang Patung Beruang ada gerak hati yang sama. This time, is a young girl, non-Malay, brilliant and has a cheerful personality.  

Harapnya, gerak hati kali ini betul juga, Aamiin.. 


Masih ada lagi beberapa interview sessions until end of this week. Just go with the flow and kita lihatlah siapa yang sudi untuk bekerja dengan Patung Beruang nanti, hehehe.. 

Akhirnya, bukan kita yang memilih sepenuhnya. Tetapi, Allah yang menentukan siapa yang akan berjalan bersama kita nanti... 

Monday, April 20, 2026

Cerita Syawal 2026

Syawal sudah melabuhkan tirainya, Alhamdulillah…

Jika masih diberi umur dan rezeki, mungkin akan bersua lagi di tahun hadapan. Jika tidak, semoga setiap amal yang kita lakukan sepanjang Ramadan dan Syawal yang lalu diterima oleh-Nya, menjadi bekal yang tidak pernah sia-sia.

 

Syawal 2026 hadir dengan pelbagai warna – ada manis, ada pilu, ada yang menyentuh jauh ke dasar jiwa.

Syawal pertama tanpa Ayah… janggal rasanya.

Pada awalnya, hati ini dipenuhi gusar – bagaimana agaknya suasana Syawal nanti?

Adakah rumah Ayah ini masih akan dikunjungi  tetamu, walaupun telah kehilangan sosok yang selama ini menjadi tunjangnya?

Mampukah diri ini menyambung peranan Ayah, menyantuni setiap tetamu yang hadir dengan penuh adab dan kasih - datang membawa keberkatan, pulang membawa kenangan?

 

Rupanya, kebimbangan itu ternyata tidak berasas.

1 dan 2 Syawal, rumah Ayah dipenuhi tetamu, baik dari kalangan keluarga terdekat, saudara-mara sebelah Ayah dan juga sebelah Ibu. Ada yang baru pertama kali Patung Beruang kenal, ada yang pertama kali menjejakkan kaki ke rumah Ayah.

Duduk berbual, bertanya khabar – nikmat yang terasa sederhana, tetapi sebenarnya tidak terhitung nilainya. Alhamdulillah…

 

2 Syawal, menu utama kami adalah Laksa Johor. Hidangan kegemaran Ayah.

Kuahnya ditempah dari café di ofis Imran. Kami cuma perlu rebus spaghetti dan siapkan ulam-ulaman.

Rasanya Laksa Johor itu… seakan membawa kembali kenangan.

Berkali-kali Patung Beruang pesan pada Imran;

“Please send my appreciation to the Chef. He or she is a savior to our Raya.”

 

Sekurang-kurangnya, dalam kehilangan, masih ada sesuatu yang mampu menghidupkan rasa “Raya” itu kembali.

Selepas ini, Patung Beruang sudah tahu untuk cari dimana jika tekak ini tiba-tiba nak makan Laksa Johor.

 

3 Syawal, 23 March – Isnin. Rutin Patung Beruang kembali seperti biasa. Sudah pulang ke KL dan seharian berkurung dirumah, menyelesaikan tugasan pejabat. Bersiap untuk BAC meeting yang bakal menjelang di 6 Syawal.


7 Syawal, 27 March - Jumaat. Logiknya, diri terasa tenang sedikit kerana BAC sudah selesai pada hari sebelumnya. Tapi entah mengapa, hati ini terasa seperti ada sesuatu yang tidak kena.

4.15 petang, ketika Patung Beruang sedang go through slides dengan Boss dalam bilik meeting, ada panggilan masuk di handphone. Nama Kak La tertera di skrin.

Perasaan tidak enak dalam hati ini makin kuat.

Terdengar suara Kak La di hujung talian:

“Yana, Mama dah takda. Baru sekejap ini. Di rumah Seksyen 3. Datang ye, Kak La tunggu awak.”

 

Akhirnya, misteri rasa itu terjawab.

Satu-satunya kakak Ayah, kakak yang paling Ayah sayang, akhirnya menyusul pergi selepas 344 hari Ayah mendahului.

 

Perjalanan dari pejabat di Jalan Tun Razak ke Seksyen 3 Shah Alam pada petang itu terasa panjang.. sunyi.. dan berat.  

Traffic agak lengang mungkin kerana ramai lagi yang masih dalam mood Raya.

 

Dari petang sehingga ke malam, ramai yang datang berziarah. Alhamdulillah..

Akhirnya, urusan pengebumian selesai pada hari Sabtu, 8 Syawal di waktu pagi.

 

2 tahun berturut-turut, di bulan Syawal, Patung Beruang kehilangan ahli keluarga terdekat. Sakit tidak terungkap dengan kata.

 

Hari-hari selepas itu dilalui seadanya.

Adakalanya terasa seperti mimpi – seakan sukar untuk percaya semua ini benar-benar berlaku.

Namun hati ini belajar untuk menerima – bahawa setiap jalan yang Allah aturkan, pasti ada hikmah yang belum kita fahami.

Surah Ali-Imran, Ayat 185:

“Every soul will taste death. And you will only receive your full reward on the Day of Judgement. Whoever is spared from the Fire and is admitted into Paradise will indeed triumph, whereas the life of this world is no more than the delusion of enjoyment. / Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahawasanya pada hari Kiamat sahajalah akan disempurnakan balasan kamu. Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke Syurga, maka sesungguhnya ia telah berjaya. Dan (ingatlah bahawa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.”

  

23 Syawal, 12 April – Ahad. Rumah pertama yang Patung Beruang kunjungi untuk Hari Raya tahun ini. Maafkan saya kerana di penghujung Syawal baru berpeluang untuk bertanya khabar. Menyantuni bonda dan kakak sepupu, yang turut kehilangan ketua keluarga pada tahun 2025. Bezanya, arwah Pak Long meninggal dunia pada January 2025 dan Ayah pula menyusul satu-satunya abang yang dimilikinya, ketika April 2025.

 

Dan semalam, 1 Zulkaedah, 19 April – Ahad.

Happy Birthday Ayah….

Jika Ayah masih ada, semalam genap lah umur Ayah 77 tahun.

Allah lebih sayangkan Ayah.

Mungkin di Sana, Ayah sudah bertemu kembali Kakak yang disayangi dan dirindui.

Mungkin rindu yang tertangguh itu kini telah terubat.

Insya-Allah, kalian berdua bahagia di Sana.

Dan di sini, selagi masih bernafas, kami akan terus mengirimkan doa … tanda kasih yang tidak pernah putus.  

 

Di waktu petang, Patung Beruang berziarah ke rumah Seksyen 3, Shah Alam. Kediaman yang sama, tetapi penghuninya sudah berkurang. Tatkala kaki melangkah masuk ke ruang tamu, mata tertangkap katil hospital kosong. Janggal rasanya melihat katil itu kosong setelah beberapa tahun dihuni.

Jika dikenang semula, pertama kali Patung Beruang ada perasaan janggal melihat katil hospital kosong di ruang tengah rumah adalah pada 19 April 2025, setelah pulang dari pengebumian Ayah. Walaupun Ayah hanya mendiami katil tersebut tidak sampai 2 minggu, perasaan aneh itu tetap ada.

Dan kini, perasaan janggal yang sama  - cuma yang berbeza adalah tarikh, katil, kediaman dan bekas penghuninya.

 



Setiap episod kehilangan yang dihadapi, pasti ada kekesalan atau ralat yang terbit di hati. 

Patung Beruang juga begitu.

Cuma kekesalan kali ini terlalu peribadi untuk diluahkan disini. Bimbang ada yang terguris hati.

Cukuplah sekadar Allah, diri ini dan juga seseorang yang jauh merentasi benua, tahu apa yang Patung Beruang kesalkan untuk kali ini.  

 

25 Syawal, 14 April – Selasa. Untuk seseorang yang jauh merentasi benua - terima kasih kerana bertanya khabar dan mengambil berat dalam diam. Kehadiran kamu di saat diri melalui fasa yang sukar, sangat dihargai.  

Setiap kata-kata yang baik, nasihat yang diberikan, perkongsian pengalaman hidup kamu - semuanya memberi makna yang tersendiri. 

Semoga segala kebaikan yang kamu hulurkan itu, Allah balas dengan sebaik-baik ganjaran, berlipat kali ganda tanpa henti, Aamiin...


Syawal 2026 telah pergi.

Tetapi segala yang ditinggalkannya tidak pernah benar-benar hilang.

Ia tinggal dalam doa yang kita kirimkan, dalam kenangan yang kita simpan, dan dalam kekuatan yang perlahan-lahan kita bina dari setiap kehilangan.

 

Hidup ini akan terus berjalan – walau hati pernah retak, walau langkah kadang terhenti.  

Selagi masih bernafas, kita akan terus melangkah.. membawa amanah, menyambung kasih yang telah pergi, dan percaya bahawa setiap perpisahan di dunia ini, hanyalah janji untuk pertemuan yang lebih abadi di Sana.

 

Al-Fatihah untuk semua yang telah mendahului…. 

Book Review: 100 Hari Di Sebuah Restoran Tanpa Menu

Tajuk: 100 Hari Di Sebuah Restoran Tanpa Menu
Penulis: Cheong Ye
Penterjemah: Shafiqah Azman

Menariknya Naskah Ini:

Ini adalah naskah ke-6 yang Patung Beruang selesai membaca untuk tahun ini, Alhamdulillah. 

Momentum membaca selepas BAC meeting di penghujung March, agak perlahan. 
Peristiwa kehilangan ahli keluarga terdekat, tugasan dipejabat yang menunggu untuk diselesaikan, proses pencarian staff baru yang bermula dari meneliti semua CV yang masuk, intervew sessions yang berhari-hari, memilih calon terbaik untuk dilantik, semuanya memperlahankan mood membaca Patung Beruang. 

Apapun, Patung Beruang usahakan juga untuk membaca sebentar terutama ketika lunch hour ataupun sebelum tidur, sebagai escapism. Risau pula tengok buku-buku yang belum dibaca, semakin banyak di rumah. 


Blurb:
“Bolehkah makanan menyembuhkan luka lama?

Selamat datang ke Restoran Mulmangcho; sebuah restoran kecil namun menunya tidak pernah tetap. Pemiliknya, Mun Mangcho, percaya bahawa makanan yang tepat mampu menyembuhkan jiwa.

Setiap pelanggan yang datang akan menerima masakan khas sesuai dengan luka yang dibawa.

Tetapi, restoran ini hanya akan beroperasi selama 100 hari. Mangcho perlu pastikan restoran ini berjaya untuk membuktikan kepada ibunya bahawa dia layak mewarisi restoran keluarga mereka.

Apakah hidangan terbaik untuk seorang pelanggan yang takut anjing?
Apa pula masakan sesuai untuk seseorang yang rasa terhina hanya kerana tidak sukakan kimchi?

Dalam usaha merawat hati pelanggan melalui makanan, Mangcho turut menemukan ketenangan dalam dirinya sendiri.

Tetapi… mampukah Mangcho menyembuhkan setiap jiwa yang singgah?
Adakah 100 hari itu cukup untuk dia berjaya?”
 


Mung Mangcho, gadis berusia 20-an, anak tunggal kepada pasangan mendiang Encik Mun Jeongwon dan Puan Geum Gwibi. Pasangan ini mengusahakan Restoran Geum Gwibi, sebuah restoran exclusive yang terletak di Seohwa-dong, Mapo-gu. 

Di restoran ini, tiada menu utama, tiada juga menu tetap. Malah, restoran ini beroperasi sepenuhnya berdasarkan tempahan. Pelanggan tidak akan diterima jika tidak membuat tempahan sekurang-kurangnya seminggu lebih awal.

Nampak pelik bukan?
Adakah konsep pelik Restoran Geum Gwibi ini boleh bertahan?

Realitinya, Restoran Geum Gwibi telah mencipta kisah kejayaan luar biasa. Tanpa sebarang francais, ia mampu mencapai pendapatan bulanan yang tinggi. Tempahan untuk bulan depan dan bulan seterusnya sudah penuh.

Syarat kejayaan Restoran ini sangat sederhana. Restoran ini menghidangkan sajian penuh yang disesuaikan khusus untuk setiap pelanggan. Sama ada masakan Korea, Barat, Jepun, atau Cina – hidangan khas disediakan mengikut cita rasa individu yang membuat tempahan.

Disebabkan itu, pelanggan perlu mengisi borang tempahan yang agak rumit sebelum berkunjung. Mereka perlu menjawab soalan-soalan seperti rasa dan aroma yang digemari, peristiwa yang dialami baru-baru ini, nilai yang dihargai semasa waktu makan, makanan zaman kanak-kanak yang membawa kegembiraan, kenangan atau luka lama yang ingin diatasi.

Kesimpulannya, Restoran Geum Gwibi menyediakan servis pemulihan hati. Prinsip utamanya adalah menyembuhkan dan menenangkan perasaan pelanggan.


 
Selepas kematian suami, Puan Geum Gwibi menguruskan restoran ini bersendirian. Kini, apabila anak gadisnya, Mung Mancho meningkat dewasa, dia merasakan sudah sampai masanya untuk si gadis mengambil alih Restoran Geum Gwibi. 

Namun, sebelum Mung Mancho boleh diiktiraf sebagai pemilik baharu kepada Restoran Geum Gwibi, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi oleh gadis itu seperti:
1. Mung Mancho perlu mendapatkan tandatangan daripada 7 pelanggan dengan mengurus sebuah restoran sementara selama 100 hari.
2. Untuk mendapatkan tandatangan tersebut, dia perlu membantu pelanggan mengubah tabiat pemakanan mereka. 
3. Tugas ini hanya merangkumi tabiat pemakanan yang bersifat psikologi, bukan alahan fizikal. 
4. Nama restoran sementara ini ialah Restoran Mulmangcho dan tugasnya adalah sebagai pengurus restoran serta tukang masak utama. 
5. Pelanggan yang terlibat tidak boleh terdiri daripada rakan atau ahli keluarga. 
6. Jika perlu, dia boleh mendapatkan nasihat daripada Puan Geum Gwibi, tetapi tidak boleh terlalu bergantung padanya.
 

Kini bermulalah misi 100 Hari Restoran Mulmangcho dimana pelanggan perlu berkunjung sebanyak 2 kali. Kunjungan pertama adalah untuk berkongsi cerita supaya Mung Mancho tahu apa masalah yang dihadapi pelanggannya. Dan kunjungan kedua barulah untuk menikmati hidangan yang Mung Mancho sediakan.

Pelanggan pertama Restoran Mulmangcho adalah seorang lelaki dewasa berusia 30 tahun bernama Byun Yuhyeon. Masalah pemakanan yang dihadapinya adalah dia tidak makan kimchi, walaupun dia orang Korea.

Pelanggan kedua pula lelaki berumur awal 30-an bernama Nakwon. Dia bekerja sebagai pegawai di sebuah agensi kerajaan. Seorang yang peramah, suka menonton filem di Netflix dan menulis ulasan filem, laksana seorang pengkritik filem tegar. 

Masalah yang dihadapi oleh pelanggan kedua ini adalah dia tidak makan jokbal. Puncanya kerana bekas teman wanitanya sangat menyukai hidangan itu sehingga mereka akan memakannya setiap kali bertemu. Kini, selepas berpisah, hidangan itu hanya mengingatkan dia tentang kisah cinta yang terputus di tengah jalan. Oleh itu, Nakwon mengambil keputusan untuk mengharamkan dirinya dari memakan hidangan tersebut kerana baginya mustahil untuk makan jokbal sambil tersenyum atau ketawa.
 
 

Baiklah, cukup disini Patung Beruang kongsikan kisah dari naskah ini. 
Naskah ini setebal 439 mukasurat. Tebal sungguh kan? hehehe…

Bagi Patung Beruang, cerita ini sangat santai dan dialognya juga santai. Terasa seperti berbual dengan sahabat karib. Tetapi dalam perbualan itu, masih ada sisa-sisa luka yang cuba untuk diselindungkan.
 
Antara petikan yang Patung Beruang suka adalah:

  • "Boleh ke saya senyum….ketawa … sambil makan jokbal ini?” Dalam nada suaranya, aku dapat rasa getar yang cuba disorokkan. Dan di sebalik getar itu, ada luka yang masih tak tertutup sepenuhnya.
  • Saat aku terima tandatangan yang kedua daripadanya, perasaan dalam dada jadi bercampur baur. Ada rasa puas, rasa lega, rasa bangga… Tetapi disebaliknya, ada satu rasa yang lebih dalam. Rasa terharu yang tak terucap, kerana malam ini dia akhirnya memilih untuk melangkah – walau hanya setapak – dalam perjuangannya melawan kenangan yang menyakitkan.
  • Alangkah bagusnya kalau lebih ramai orang seperti staf tadi wujud di dalam dunia ini. Yang sudi buat baik walaupun tak kenal siapa kita. Yang tetap senyum dan cakap, “Datang lagi nanti,” walaupun tahu aku masih belajar menjadi manusia yang lebih baik.
  • Rasa bersalah kerana tak mampu memberi yang terbaik hingga menganggap diri sebagai pesalah – bukanlah sesuatu yang asing bagi aku. Mungkin itu perasaan ibu terhadapku selama ini. Kesedihan yang datang, apabila kita percaya kitalah punca seseorang pergi terlalu awal….sebenarnya masih belum benar-benar hilang daripada kami. Ia terus tinggal diam, di sudut paling sunyi dalam hati.
  • Bahu Whimin dari tadi terlipat ke dalam, seolah-olah tak mahu sesiapa nampak kewujudan dirinya. Tetapi aku tahu, di sebalik bahu yang membongkok itu, ada macam-macam yang dia sedang tanggung. Awan gelap di atas kepalanya terasa makin berat. Aku pandang semula hujung jarinya yang tak duduk diam. Jari yang kelihatan keras dan kasar itu, mungkin dahulu pernah bebas menari di atas tali gitar. Tetapi sekarang, gitar pun dah tak ada. Dan bersama gitar itu, kebebasan dia pun hilang.
  • Rasa gelisah bukanlah sahabat baik kepada rasa yakin, tetapi selalunya, ia datang beriringan. Walaupun seseorang itu hidup dalam suasana yang stabil, kalau harga dirinya rendah, setiap hari dia akan dihurung rasa bimbang. Sebaliknya pula bagi orang yang yakin pada diri sendiri, mereka tak akan mudah goyah walau hidup dalam serba kekurangan. Rasa risau pun boleh jadi pendorong untuk mereka terus hidup.
  • Apabila kamu ada impian, itu ibarat kamu bina satu kincir angin dalam hati. Ia takkan bergerak sendiri. Kena ada angin yang kuat dan tanah yang cukup luas untuk bertapak.

 


Setelah beberapa kali membaca novel terjemahan dari Korea, Patung Beruang perasan yang lokasi seperti kedai buku, kedai serbaneka dan kini restoran pula sering menjadi rumah atau “tempat pulang”. Contohnya karya Selamat Datang ke Kedai Buku Hyunam-Dong atau pun Dallergut Dream Department Store.


Seperti kata Editor untuk naskah ini, karya-karya sebegini membawa pembaca menyelami perasaan yang lebih mendalam; tentang tujuan hidup, kerinduan, dan mungkin, kekesalan yang tidak pernah benar-benar selesai. 


Melalui suasana yang dekat dengan kehidupan seharian – kedai buku, pejabat pos, restoran – penulis menggambarkan betapa berharganya tempat-tempat kecil yang membuatkan kita selamat, terutama ketika hidup terasa berat.  


Luka kita kadang-kadang sangat kecil. Ia tidak membunuh kita, tetapi tak ubah seperti luka kecil di hujung jari yang cukup untuk membuat kita berasa terganggu sepanjang hari. Dan setiap dari kita pasti menyimpan luka seperti itu....